.

Senin, 21 April 2014

[FANFICTION] GOODBYE...




‘Goodbye...’

Author : Pabo Namja
Cast : Xi LuHan, Kwon YeeNa
Type : One Shoot
Genre : Romance, Sad

**

When I Was Your Man milik Bruno Mars mengalun merdu mengisi atmosfer caffe yang sepi ini. Aura sendu kembali mendera kalbu perempuan yang sedari tadi memaku matanya pada pandangan diluar, sinar hangat awal musim panas lebih menyita perhatiannya dari pada lelaki didepannya yang sekarang mulai menyenandungkan lagu tersebut.

Perempuan dengan rambut ikal itu membuang nafas berat dan memasang senyum kembali menatap lelaki bersweeter abu didepannya. Merasa sepasang iris coklat kembali memerhatikannya, lelaki itu tersenyum dan menghentikan senandungnya.

“Aku pernah berfikir untuk menyanyikan lagu ini dikonser mendatang bagaimana menurutmu?.” Tanya si Lelaki sweeter yang bernama LuHan itu sambil mengambil cangkir capuccino miliknya.

“bagus, kau cocok saat menyanyikan lagu berbahasa inggris.” Jawab si perempuan.  

Matanya dengan lembut memerhatikan lelaki dihadapannya. Menginjak tahun ke lima dia mengenal lelaki dihadapannya ini. Dan ini merupakan tahun ke tiga sejak dia resmi menjadi kekasih lelaki bernama Xi LuHan idola musik korea yang tidak pernah padam.

Ia masih ingat rasa bahagia yang memenuhi kerongkongannya malam itu, yang berbanding terbalik dengan perasaannya akhir – akhir ini terhadap Lelaki dihadapannya. Ia masih terus bertanya – tanya pada lubuk hatinya arti dari keresahanya. Tidak seperti dulu, perasaan malas kadang menerpa saat dia bersama LuHan. Apa dia sudah bosan? Apa dia lelah? Bukan itu jawaban pastinya, dan jawaban tepatnya sampai detik ini pun dia belum tahu.

“Yeena.” LuHan melambaikan tangan didepan muka perempuan yang bernama yeena, membuatnya tersadar dari lamunannya. “Sebegitu rindukah kau padaku? Tatapanmu membuatku takut.” Canda LuHan.

“Aku tidak pernah merindukanmu sekalipun.” Jawab Yeena sambil terkekeh.

“Aku rasa tempat ini mulai banyak pengunjung, kita pergi sekarang?.” LuHan memiringkan kepalanya kearah pintu keluar. Inilah style dating mereka, saat suatu tempat mulai ramai saat itulah mereka mencari tempat baru yang sepi.

“Hemh.” Yeena mengangguk. Dia merapihkan pakaiannya dan menyusul LuHan yang sudah mendahuluinya keluar dari caffe ini. Yeena menghentikan langkahnya saat ia melihat seorang wanita baya didepan meja kasir tersenyum padanya. Yeena membalas senyumnya dan sedikit membungkukan badanya sebelum melanjutkan langkahnya.

***

“Anak – anak manajemen nanti malam berencana pergi keluar, kau ikut bergabung?” tanya Choi Rora, rekan Yeena dikampus. Yeena tahu persih dengan rencana ‘pergi keluar’, mereka pasti akan menghabiskan malam bersama pasangan sambil menikmati soju dan gurita kering di tepi sungai Han.

Pernah Yeena ikut sekali acara itu dan berhasil membuatnya terkubur dalam kesendirian. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa menunjukan kekasihnya pada teman – temannya. Dan yang mereka tahu hanyalah Kwon yeena yang sudah hampir 4 tahun tanpa pendamping. Menyedihkan.
“Seperti biasa, aku tidak ikut. Maaf, Rora kurasa kau mengerti alasanku.” Jawab Yeena sambil menepuk bahu Rora pelan sebelum dia keluar dari ruangan dan mulai sibuk dengan ponselnya.

“Senior Jung yang mengajakmu.” Ucap Rora menghentikan langkah Yeena. “Senior Jung yang memintaku untuk mengajakmu, ayolah Yeena sudah sangat jelas dia memliki ketertarikan padamu kenapa kau terus menghindar?.”

Yeena hanya diam sambil memainkan gantungan Handphonenya, ia memang sudah tahu tentang fakta itu, tapi apa boleh buat dia sudah terkait hati dengan orang lain. Satu senyuman tersungging dibibir kecil yeena sebelum dia melanjutkan langkahnya keluar kelas dan melambaikan tangan pada Rora “Ucapkan terimakasihku padanya, tapi maaf aku tidak bisa.”

Angin penghujung musim semi menerpa rambut yeena, dia menghirup sebentar udara hangat itu untuk mengisi kerongkongannya. Yeena mengalihkan perhatian pada handphonenya, dengan cepat dia mengetikkan pesan singkat dan kembali melanjutkan langkahnya.

Mianhe…. rencana hari ini sepertinya gagal. Aku dan Hyung ada program mendadak. Tapi kau bisa kesini, princess sudah berkumpul J. Mianhe… saranghae…

Yeena terpaku membaca balasan pesan singkat dari LuHan. Dia berniat menagih date dengannya hari ini, tapi apa boleh buat selalu begini. Menyusul ke dorm mereka? Bergabung dengan Princess. Semua member tahu pasti apa arti dibalik kata ‘princess’ bisa disebut Yeena juga bagian dari mereka, kekasih member lain.

Yeena sudah sering menghabiskan waktu dengan mereka, yang dilakukan seharian membicarakan tentang kekasih mereka yang berstatus idol dan kehisterisan mereka.

Tapi untuk hari ini Yeena merasa lelah dengan semua itu, entahlah dia bingung. Yang dia inginkan hanya Xi LuHan dan menjalani hubungan layaknya pasangan normal. Ok, itu memang berlebihan, setidaknya yeena memahami arti kata normal dengan status kekasihhnya yang seorang superstar. Dan keyakinan itu semakin hari, semakin memudar.

“Apa yang akan kau lakukan untuk mempertahankanku Xi LuHan.” Bisik Yeena.

***

Yeena terbangun dari lamunannya saat satu tangan menempuk bahunya. Dan ia menyadari bahwa mobil mereka sudah terparkir di depan dorm kekasihnya.

“Kau naiklah keatas, ada Youngran di dorm mungkin bisa menemanimu. Aku mendapat sms mendadak dari Manager, aku tidak akan lama kita lanjutkan acara date hari ini.”

LuHan menatapnya dengan lembut, seolah memberi kode jangan marah, ini semua mendadak. Yeena memejamkan matanya dan kembali membuang nafas berat, dengan enggan dia membuka sabuk pengaman tapi gerakannya terhenti dia membalikan badanya dan menatap LuHan penuh arti.

“Bisa kita bicara sebentar.?” Tanya Yeena.
“Aku sudah menunggumu mengucapkan ini dari tadi. Aku merasa ada yang tidak beres denganmu. Katakan.” Pinta LuHan lembut. Dia membalikan badanya menghadap yeena memperhatikan arti kelam matanya.

Yeena diam, dia terlihat ragu.

“Ini menginjak tahun ketiga kita bersama.” Yeena memulai dengan hati – hati.

“Aku tahu.” Jawab LuHan lembut.

“Umurmu tahun ini menginjak 23, dan aku 21.” Lanjut Yeena.

“Aku juga tahu untuk hal itu.” LuHan kembali menjawab.

Yeena memejamkan matanya sebentar, “Bisakah aku mendapatkan perlakuan dari kekasih layaknya pasangan umur 21, bisakah kau menunjukan pada yg lain aku kekasihmu?” tak ada keberanian Yeena untuk menatap mata hitam LuHan. Mengatakan itu pun dengan Yeena menekan semua keberaniannya.

LuHan membenarkan posisi duduknya, tangannya dengan ritme mengetuk setir yang ia jadikan tumbuan, “Aku memang tidak bisa memberikan apa yang wanita seumurmu inginkan, pengakuan, kepastian dan masa depan. Aku bukan tidak berani mengatakan ‘YA’ dan berusaha untuk itu, tapi aku takut dengan kata ‘YA’ itu hanya akan membuatmu lelah.”

“Apa kau berada dalam batas lelahmu,?” LuHan menyentuh tangan Yeena lembut, dan saat itu bulir bening jatuh ditangannya.

Yeena menggeleng pelan, “maksudku, aku selalu berusaha untuk tidak lelah untuk ter-”
“dan sekarang kau mencapai batas lelahmu,” LuHan mengangkat wajah Yeena dan mengusap lembut air matanya. “Maaf membuatmu merasa terus terkungkung, maaf membuatmu merasa hidup tidak normal aku selalu ingin melakukan apa yang naluriku inginkan, tapi ada keterbatasan yang kumiliki.”

Yeena terisak pelan, dia berkali -  kali menggelengkan kepalanya mencoba mematahkan yang LuHan ucapkan. “Bukan itu yang ku maksud, hanya saja bisa kita untuk tidak saling bertemu untuk beberapa waktu? Izinkan hatiku merasakan kehilangan agar aku bisa kembali mendekap hangatmu.” Dengan air mata yang terus mengalir, yeena menggenggam erat tangan LuHan.

“Aku mengerti. Kembalilah saat kau mulai merindukan kehangatanku, aku selalu disini utnukmu. Dan saat itu tiba, aku harap ada segenggam harapan baru untuk kita.” LuHan tersenyum pahit, dia merangkul lembut yeena dan membelai rambutnya mencoba merasakan kehadiran yeena yang selalu memberikan sinar dalam hidupnya.

“Maafkan aku…” bisik Yeena.

“Tidak ada yang salah dalam kasus ini, yang kau lakukan benar. Biar hati kita masing – masing menemukan kembali jalan pulang.”
Yeena memeluk erat LuHan. Dia tidak tahu kapan pastinya dia membuat keputusan semacam ini. Beban datang melanda saat bersamanya tapi rasa sakit juga menerpa ulu hatinya saat mereka berpelukan satu sama lain dan merasakan detak jantung masing – masing. Yeena masih merasakanya, masih sangat merasakannya.

“Yakinkan cintamu pada dirimu, kau masih merasakan detakan jantungku sama seperti malam kita pertama berpelukan bukan. Aku masih ada untukmu Kwon Yeena.” LuHan kembali memeluk Yeena erat dan membelai lembut rambutnya.

***

‘kau yakin dengan keputusan ini?’

Yeena mengeja tiap kata yang terbentang dilayar handphonenya. Puluhan pesan singkat menghujani jaringan handphonenya sejak tadi sore. Haruskah Yeena berharap lebih untuk masuk infotainment tentang berita putusnya dia dengan sang superstar?.
Dengan setengah hati –karena ini bukan untuk pertama kalinya dia menjelaskan- yeena dengan cepat sebagai balasan pesan dari temannya YoonHee.

‘semoga yakin… J ’
-Sent-

Sebelah mana kau bisa melihat indahnya perpisahan?. Sebenci apapun kita akan satu hal, pasti ada setumbuk rasa nyeri saat sebuah perpisahan menyapa. Itu yang dilandasi benci. Lalu apa kabar dengan Yeena bencipun tidak ada menyambangi kejadian ini. Jadi haruskah dia ragu?. Ragu melangkah hanya akan membuatnya terjebak kembali, setidaknya ia ingin tetap melakukan hal sama tapi dengan sedikit melangkah maju. Berlebihan kah?

Yeena beranjak dari kegiatannya bergelung dalam perasaan anehnya. Memusatkan manik coklatnya pada rentetan folder dilaptop hitamnya.

“Apakah semua ini akan bertambah atau akan ku enyahkan?.”

“Meskipun berpisah denganmu, bukan berarti menghilangkan tentangmu..” Ucap Yeena dengan sejurus kemudian mengarahkan pointer mouse nya pada folder bernama ‘Music’.
‘Love Dust’

Detik selanjutnya, suara berat dan lembut dari seseorang bernama Xi LuHan mengalun mengisi ruang sempit di hati Yeena.

‘Kau dan LuHan Oppa berakhir bukan berarti kita berakhir juga kan?.’

Yeena menghentikan aktifitasnya tenggelam dalam lembutnya alunan musik itu, saat satu pesan kembali menyatroni Handphonenya.

.Park Youngran.

Itu nama yang tertera di layar Handphonenya. Yeena kenal betul dengan sifat temannya yang satu ini. Dengan senyum Yeena kembali mengetik pesan untuk balasan dan penjelasan kedepannya.

‘Aku memutuskan hubungan dengan lelaki bodoh itu, bukan dengan kalian. Semua masih sama. Perlakukan aku biasa saja. Aku masih Yeena yang dulu… J’

Yeena membaca kembali setiap kata yang dia tulis, setelah dirasa tidak berlebihan, dia memilih beberapa nomor yang dia rasa harus dikirimi pesan ini.

.Uminie wifeu

.Ahjumma

.Baekkie wifeu

.Ming wifeu

.Yeol Wifeu

.Joon Wifeu

Yeena terkekeh saat membaca rentetan Phonebook yang dia pilih.
-Sent-

“Haruskah aku mengganti nama kontak mereka?.”

“Semuanya baru saja dimulai bukan berakhir…”
Bisik Yeena lebih pada dirinya sendiri.

END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar