.

Sabtu, 19 April 2014

[FANFICTION] WHEN YOU 'LOST' SOMETHING



‘When You Lost Something’

Author : Pabo Namja
Cast : Byun BaekHyun, Kim JongIn
Type : One Shoot
Genre : Family
BackSound : The Cranberries – Ode To My Family


**

BaekHyun memiliki mimpi. BaekHyun pun yakin dia memiliki bakat. Tapi, terkadang hanya sebentuk keyakinan tidak mampu untuk menopang berdiri mimpi yang ia bangun.

BaekHyun tak jarang terjatuh.

Sekali lagi manusia hidup dengan keyakinan, dan sekali lagi BaekHyun berdiri merajut kembali asanya, sebelum dia terjatuh kembali, BaekHyun hanya bisa terpaku menatap gundukan mimpinya. Kembali bertanya pada hati terdalamnya, ‘Bisakah kuatkan aku sekali lagi…

BaekHyun baru akan melangkah memasuki rumah berwarna coklat dengan aksen dan fitur kayu mengelilingi bangunan yang sejak satu tahun terakhir ini menjadi tempat BaekHyun berteduh, dia baru akan melangkah. Namun kedua kaki berbalut kaus kaki putih itu berhenti, dalam tegunannya BaekHyun terpaku pada pemandangan didalam sana.

“AMAZING…. ayah yakin kau pasti bisa Jongin-ah… Hebat hebat…!!!” seorang lelaki berbalut kaus hitam dan celana Jeans khaki bersuara lantang,  suara yang terdengar jelas penuh dengan rasa bangga dan sayang yang beratnya mungkin mencapai berat bumi ini.

Pujian yang lelaki itu tujukan pada anak kesayangannya. Bocah lelaki yang umurnya terpaut dua tahun dengan BaekHyun. Bocah lelaki yang sedang duduk disamping lelaki kaus hitam yang tak lain adalah ayahnya, dia terlihat tersenyum cerah sembari terus mengacungkan jempol tangannya.

“Hebat JongIn… kau anak yang berbakat ” timpal suara lembut seorang perempuan yang duduk disebelah kanan si bocah. Perempuan yang juga merupakan ibu tiri JongIn ikut mengacungkan dua jari untuk JongIn. JongIn anak tirinya.

BaekHyun merasa enggan untuk masuk, dia seperti menjadi lalat yang akan mengganggu hidangan mewah untuk disantap. Bukan, dia sebenarnya bukan lalat. Dia bagian dari keluarga ini, dia anak dari perempuan yang duduk disamping JongIn, dia kakak tiri dari jongIn dan tentu dia anak tiri dari lelaki kaus hitam itu.

Ya.. BaekHyun bukan lalat.

BaekHyun melepas kaus kaki putihnya, dia selipkan diantara lubang sneakers biru kesayangannya dan beranjak meraih slipper bertuliskan ByunOne miliknya.

“Aku pulang…” suara BaekHyun dengan lantang, satu guratan senyum tergambar di wajah putihnya.

“Eoh.. BaekHyun-ah… ” jawab si perempuan, yang kini beranjak dari duduknya dan menghampiri baekhyun. Tentu, karena dia ibu kandung Baekhyun, yang BaekHyun percaya akan lebih menyayangi dirinya lebih dari siapapun, baik itu JongIn saudara tirinya yang penuh dengan hal membanggakan.

“Bagimana audisimu???” tanya si lelaki Kaus hitam.

Lidah BaekHyun kelu. Hati Baekhyun getir, dia juga merasakan kedua tangannya bergetar. Dia hanya bisa berbisik bahwa dia juga memiliki mimpi. “ Belum berhasil paman, aku belum beruntung ” jawab BaekHyun.

JongIn menatapnya, lelaki yang dia panggil paman yang merupakan ayah tirinya juga menatapnya dan sang ibu pun tidak terlewatkan. Tatapan yang berbeda arti. Dengan Jongin yang seakan menyerukan ‘Jangan menyerah Hyung..’, tatapan sang ayah tiri yang tidak ingin Baekhyun artikan. Dan tatapan sang ibu yang selalu menghangatkan hatinya.

“Tidak apa… masih banyak perusahaan yang menanti suara emasmu sayang..” ucap sang ibu menangkan.

“Benar Hyung.. satu-dua kali gagal audisi bukan hal aneh, kau akan menemukan yang terbaik suatu saat nanti..” sahut JongIn.

“Ya… suatu saat nanti.. kapan itu BaekHyun… JongIn sudah menemukan perusahaan yang akan mengasuhnya, aku menanti saat mu itu..”

“Iya.. paman…” jawab BaekHyun. BaekHyun ingin menjawab lebih dari itu, ia ingin menjawab dengan semua rasa irinya, dengan semua rasa lelahnya. Tapi apa daya.

BaekHyun memang bukan lalat.

Tapi didepan ayah tirinya, Baekhyun merasa seperti lalat yang pantas untuk disingkirkan dengan satu tepukan.

“ibu, aku kekamar dulu,” ucap BaekHyun.

Dia melangkah setelah sang ibu mengusap lebut ubun kepalanya, menuju kamar disudut lantai dua. Kamar tempatnya menumpahkan semuanya. Asa, mimpi, marah, sedih, beban. Terkadang BaekHyun malas hanya untuk sekedar membuka pintu kamar berwarna hitam itu, kamar itu sudah terlalu penuh, BaekHyun merasa sesak.

Baekhyun menghempaskan tubuh dikasur empuk miliknya. Sesaat BaekHyun menikmati perasaan terapung efek dari kasur empuknya ini.

Terbang…

Ya.. andai dia bisa, ijinkan BaekHyun terbang saat ini juga. Terbang menembus langit biru, berpijak dihamparan awan putih dan bernyanyi bersama angin. Hey.. setidaknya saat ini juga BaekHyun bisa melakukannya. Hal yang rutin BaekHyun lakukan, bernyanyi bersama angin mengikuti melodi sang burung. Itu pelatihan terbaik.

Baru Baekhyun akan membuka jendela kamarnya yang menghadap kelangit sore saat itu, dia mendengar lantunan merdu dari benda kecil yang masih terperosok jauh dialam tasnya. Dengan satu tangan BaekHyun meraih benda itu, mendapati benda kecil dengan layar LCD yang berkelap kelip. Setelah membaca siapa yang menyebabkan deringan itu, Baekhyun menyapu layarnya dan menempelkan benda itu di telinganya.

Eoh…  ada apa..??”

“YA…!! Kau dimana????” suara disebrang sana terdengar berteriak. BaekHyun terkikik saat dia tahu, seseorang sedang dilingkupi aura marah.

“Aku pulang,, maaf tidak bisa menungguimu selesai. Bagaimana hasilnya??”

“Aku sudah menyuruhmu jangan dulu pulang sebelum aku selesai, Bodoh..!!” Baekhyun melayangkan satu pertanyaan, tapi orang disebrang sana tampaknya belum puas dengan jawaban BaekHyun.

“Maafkan aku Choi SooYoung… ibuku menelfon untuk segera pulang, neneku dari Busan datang. Sekarang jawab pertanyaanku..”

“Eoh…. baiklah.. kau kumaafkan.” Terdengar satu hembusan gusar dan guratan tawa diakhir kalimat. SooYoung memang bukan teman terdekat BaekHyun, tapi benar kata orang yang selama ini dia dengar, tidak ada kata marah untuk manusia seperti BaekHyun. Entahlah semacam ada sihir. “Ah… BaekHyun-ah.. aku… AKU DITERIMA DI SM… ahh aku tidak percaya BaekHyun-ah… minggu depan aku resmi menjadi Trainee disana dan…”

BaekHyun masih disana. BaekHyun masih mendengarkan SooYoung yang tengah berbagi kebahagiaannya. Ya.. dia bahagia, setidaknya SooYoung telah melangkah dua langkah untuk mimpinya, meninggalkan BaekHyun yang masih di titik start.

BaekHyun membuka jendela kamarnya, menatap langit dihiasi burung – burung yang mulai kembali ke sarangnya. Masih dengan handphone yang terbubung dengan SooYoung, baekHyun bertanya pada dirinya ‘Mengapa orang lain begitu beruntung?? Dan kapan giliranku…’  SooYoung berbakat, tapi apa baekHyun tidak berbakat?.

“jadi bagaimana hasilmu???” tanya SooYoung  setelah penjelasan panjang lebarnya.

“Ehm…” BaekHyun tertegun. Dia ragu untuk menjawab. “Aku… aku gagal Soo… heheh…”

“Kau..? Gagal…” Hening. BaekHyun mengira mungkin SooYoung bingung untuk menimpali seperti apa. Dan percakapan selanjutnya bisa Baekhyun tebak kemana alurnya.

“Soo, aku harus turun untuk makan malam, kita lanjut perbincanganmu besok ok..? mungkin aku harus berguru trik – trik audisi padamu… Bye-”Tut.

BaekHyun meletakan ponsel dimeja belajarnya, beralih dengan ransel hitam yang dia bawa ketempat audisi tadi. BaekHyun meraih ranselnya dan mengeluarkan nametag putih bertuliskan ‘BaekHyun’.  BaekHyun meraih nametag itu menggantungkan lagi dilehernya dan berdiri didepan cermin. Cermin yang memantulkan bayangan sosok bocah lelaki, yang tersenyum, senyum untuk menyambut mimpinya yang tak kunjung tiba.

“Huhft… aku lelah hanya menggunakanmu diaudisi, kapan aku menggunakanmu divideo rehaersal yang akan diserahkan ke program musik.. hahaha” kekeh BaekHyun sambil memadang cermin.

Satu ketukan pintu mengalihkan perhatian BaekHyun.

“Siapa??”

“Aku Hyung…” sahut satu suara.

“Sebentar……”

BaekHyun segera melepas nametag yang masih tergantung dilehernya, menjejalkan benda putih itu kembali ke ransel hitam dan menggantungkan ransel hitam itu di samping lemari bajunya. Kenapa? BaekHyun tidak ingin terlihat seperti orang yang putus asa.

.
.
.

“Hyung…. siapa orang terhebat di negeri ini menurutmu…” Tanya JongIn, saat BaekHyun dan JongIn tengah terlentang di tempat tidur kamar BaekHyun tanpa penerangan yang menampilkan bintang – bintang plastik diatap kamar BaekHyun.

“Negara ini..?? terlalu banyak orang hebat JongIn…” jawab Baekhyun pasti, dia bahkan belum sempat untuk memikirkan pastinya. Ya.. karena begitu banyak orang hebat.

“Ehm,,, aku persempit. Disekolah kita…” tanya JongIn lagi.

BaekHyun mengeluarkan gumaman sebelum menjawab pertanyaan adik tirinya ini, dia menjatuhkan butir mata hitamnya pada satu bintang plastik diatap kamarnya yang berkelip berwarna biru. “Disekolah kita..??” tanya BaekHyun memastikan.

JongIn tidak menjawab, tapi BaekHyun bisa merasakan dia menganggukkan kepalanya.

“Ehm…. Kelas tiga, Kris Wu. Dia belum lulus, dia seangkatan denganku, tapi berhasil menjadi model, dengan manajemen ternama yang menaunginya. Ah,,, Kim JongWoon, kau kenal dia? Di baru lulus dua tahun yang lalu, seorang penanyi terkenal korea, kemudian ada… Im YoonAh, kau bisa mudah menemukan dia diberbagai drama akhir – akhir ini…” Jawab BaekHyun. Kamar ini memang gelap, jadi BaekHyun tidak tahu seperti apa ekspresi wajah JongIn saat ini karena tidak sepatah katapun dia ucapkan.

“Itu menurutku, kau?” kembali tanya BaekHyun.

“Ehm… aku ingin menyebut pacarku Jessica, dia cantik, suara bagus, pandai acting-

“dan dia ice princess” potong BaekHyun.

“Ahahah… aku tau itu Hyung,, tapi menurutku sosok paling hebat adalah Murid kelas 3-B…’

“3-B? Kelasku, siapa? SooYoung maksudmu??”

“Bukan,,, tapi kau. Hyung Ku…” JongIn bangkit dari tidurnya, bersila menghadap BaekHyun dengan wajahnya yang tidak bisa dikatakan dia sedang bergurau.

BaekHyun merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ‘hahaha kau bergurau JongIn’ Selalu ada alasan dan bahasan serius saat JongIn berbagi cerita dengannya. Dia dan JongIn memang terpaut status saudara tiri, tapi itu tidak pernah membatasi mereka untuk saling menyayangi layaknya saudara kandung. Baekhyun ikut bangkit dari tidurnya dan duduk besila mengikuti JongIn.

“Hyung, terkadang aku ingin saat Ayah secara tidak langsung membandingkanmu denganku, aku ingin kau membentaknya atau sekedar menumpahkan apa yang kau rasakan, aku merasa seperti saudara jahat saat melihatmu hanya tersenyum dan berlalu..”

BaekHyun menyunggingkan segaris senyum. Dia tahu JongIn tidak akan melihat itu, lagi pula ini bukan jawaban untuk pertanyaan JongIn, tapi ini merupakan sentilan tawa untuk sifat menyedihkan BaekHyun yang JongIn paparkan.

“JongIn-ah… apa menurutmu dengan aku yang bisa menentang ayahmu dan meluapkan amarahku terlihat lebih baik?” Tanya BaekHyun.

“Mungkin terdengar tidak begitu baik, jika konteks ayah yang kau maksud bukan ayahku.” JongIn menghembuskan nafas, jarinya bergerak – gerak membentuk bentukan abstrak yang terasa oleh BaekHyun. “Sayangnya Hyung mendapat Ayah diluar konteks ayah pada umumnya,,” lanjut JongIn.

“Aku tahu,,” jawab BaekHyun. “Aku bukan robot JongIn, aku bisa merasakan dan melihat apa yang memang terjadi. Bolehkah aku jujur padamu…”

BaekHyun melihat samar jongIn mengangguk. JongIn juga mengubah posisi duduknya, sehingga dia duduk berhadapan dengan kakaknya.

“Jujur, Aku sedikit kecewa saat ibu mencarikanku Ayah yang… seperti ini..” Baekhyun ragu untuk mengatakannya, tapi JongIn terlanjur mendengarnya. Jongin? BaekHyun melihat dia menatapnya dengan manik hitamnya lekat pada wajah BaekHyun.

“Ayahku dulu, seorang yang sekecil apapun yang kulakukan dia selalu memujiku, dia selalu berkata ‘BaekHyun-ah… hari ini kau bisa melakukan sampai titik ini, besok lanjutkan dan capai titik lainnya.’ Kau tau Jongin? Itu seperti sebuah kekuatan bagiku…”

“Ayah juga sering mengatakan itu padaku,” timpal JongIn dengan suara pelan.

“Aku tahu..” jawab BaekHyun tersenyum pada adiknya, meski BaekHyun tahu JongIn tidak akan menangkap jelas senyum tulusnya. “Ayahmu sangat bangga dan sayang padamu, seperti itulah kurang lebih yang dulu aku rasakan..”

“Dan Ayahmu pun datang dalam hidupku…” Baekhyun merangkul kedua kakiknya, pandangannya terbang jauh keluar sana, seakan mencoba menangkap sosok Ayah yang dia miliki saat ini.

“Sosok Ayah yang mencambukmu secara halus setiap saat, yang menghunusmu dengan pedang kasat mata tanpa kau sadari, Hyung hanya akan merasa sakit dan merasa berdarah dengan Ayah disisi lain dengan pedang tembus pandanganya tersenyum bangga padaku..”

“Hahaha….” Baekhyun tertawa mendengar penuturan dramatis adik disampingnya. BaekHyun memperpendekat jarak duduknya dengan JongIn dan mengelus sayang rambut adiknya. “Ayahmu tidak sejahat itu JongIn…”

“jangan mengelak Hyung,, dia selalu dan Hanya membanggakanku-”

“Karena kau anaknya….” potong BaekHyun yang menghentikan kalimat JongIn seketika.

“Hyung…. kau pun anaknya sejak ayahku dan Ibumu mengucap Janji..” lanjut JongIn ada sedikit emosi, yang tertekan dalam kalimat itu.

BaekHyun menurunkan tangan dari kepala JongIn. Tangan yang perlahan terkepal dengan BaekHyun yang menahan sesak didada dan letupan kecil ditangannya. Benar, yang dikatakan JongIn Baekhyun akui kebenarannnya. Bahwa dia juga anaknya.

“Maaf… aku mengambil garis seperti ini.” Ucap BaekHyun. “Aku memiliki Ayah yang bisa dikatakan adalah sempurna untuku dan kemudian tuhan mengambilnya, lalu tuhan memberiku Ayah baru yang benar – benar baru. Hidup adil Jongin, dan tuhan adil.. setidaknya dia ingin membuatku merasakan, ya… kasih sayang yang berbeda dari ayah yang berbeda..”

“Jadi kau menganggap perlakuan Ayah selama ini bentuk kasih sayang??”

BaekHyun tertegun. Apa seperti ini kah bentuk kasih sayang untuknya? Saat sang ayah memandangnya seakan BaekHyun hanyalah bocah tidak ada apa – apanya, saat apapun yang BaekHyun capai tidak ada satu ucapan bangga yang dialamatkan padanya. Apa BaekHyun bisa meneriman semua ini sebagai bentuk kasih sayang?

“Untuk saat ini mungkin belum…” jawab BaekHyun yang direspon dengusan sebal dari JongIn. “JongIn-ah,,, mengapa kau berfikiran bahwa Ayahmu begitu jahat padaku? Disebelah mana kau melihat semua ini begitu buruk?” lanjut BaeKhyun.

“Hyung… kau merasakannya sendiri..” jawab JongIn.

“Yang aku rasakan hanya Ayahmu yang selalu bangga padamu.. heheh” canda BaekHyun.

Eiyyy… dan itu salah satunya.”

BaekHyun kembali membaringkan tubuhnya. Dia menarik selimut yang sedari tadi Jongin gunakan untuk menggambar abstrak dengan jarinya.

“Kau tidur disini malam ini??” tanya BaekHyun.

Eoh… aku tidur denganmu Hyung….” jawab JongIn, yang selanjutnya JongIn juga berebah dan ikut menyelundup kedalam selimut BaekHyun menutupi sekujur tubuhnya.

“Hyung….. kau selalu menceritakan tentang Ayahmu dulu,”

“Hmm…”

“Tentang ayahmu yang selalu membanggakanmu, merangkulmu saat bersedih, membantumu membangun mimpi… Ayahmu tergambar dalam otaku sangat sempurna..”

“Hmmm” jawab BaekHyun dengan suara bergetar.

BaekHyun merasakan sekujur tubuhnya memanas, kondisi dimana dia merindukan sosok Ayahnya. Keadaan saat ini memang tidak seperti kondisi BaekHyun dulu. Kondisi dimana saat BaekHyun terjatuh ada sesosok pahlawan yang akan menghampiri untuk menyapu sembuh luka dengan senyumnya. Sosok yang selalu mengacungkan jempol untuk BaekHyun, saat hal hebat sekecil apapun BaekHyun lakukan.

Mengenang semua ini hanya membuat kamar ini kembali penuh sesak. Ribuan aduan tentang seperti apa sosok ayahnya saat ini memenuhi kantung udara BaekHyun. Sesak. Dia butuh Ayahnya. Dia sedang terjatuh, dia butuh seseorang yang menghampirinya dengan senyum dan berkata ‘bukan apa – apa BaekHyun-ah… kau masih bisa mencapainya…

BaekHyun hanya akan menjadi siput bila seperti ini terus. Selalu terkungkung dalam masa lalu yang terlalu manis yang mebuatnya menjadi pesakitan menjalani hidup dengan rasa lain.

“Hyung….” suara JongIn yang Baekhyun rasa begitu dekat.

Eoh,…kenapa??” jawab BaekHyun dengan suara sebiasa mungkin.

“Tidak, Kau hyungku yang paling hebat, semua ini bukan apa – apa Hyung… mimpimu menantimu diujung jalan sana, tetaplah bersemangat, kau pasti bisa Hyung… selamat malam…”

BaekHyun tidak ingin menangis. Tapi dia merasakan kedua pipinya basah dan matanya terasa panas. Tuhan memang memberikan rasa berbeda dalam hidupnya dengan kehadiran Ayah yang diluar keinginan BaekHyun. Tapi Tuhan memberikan Baekhyun penawar rasa pahit dengan hadirnya JongIn, sosok lain dari rasa manis.

“Selamat malam..” jawab BaekHyun sambil mengusap air matanya.

I Miss You Dad….” ucap BaekHyun dengan suara kembali bergetar. BaekHyun memejamkan kedua matanya, dan berdoa untuk Ayahnya, untuk dirinya, Ibunya, JongIn dan untuk kehidupan yang Baekhyun hadapi saat ini.



END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar