.

Rabu, 18 Juni 2014

[FANFICTION] A BAD OF BOY ; MY BAD BOY EP.1


A Bad of Boy ; My Bad Boy – Episode 1 : ‘Bad Boy & Meeting’

Author : Pabo Namja
Cast : Byun BaekHyun, IU
Type : Chaptered
Genre : Romance, Fluff
Inspired from Haruka Fukushima’s Comic ‘Triple A (AAA)’

**

You are bad, but… I love you…

***

“Tes akan dimulai tiga menit lagi” ucap sang pengawas, membuat Jieun yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya semakin panik. ‘Aish, kemana pensilku itu. Perasaan aku sudah memasukkannya ke dalam tas semalam. Bagaimana ini?’ Gerutunya dalam hati

“Dua menit lagi…” teriak sang pengawas yang membuat Jieun semakin panik. Pensilnya itu masih belum juga ditemukan. Jieun mengacak-acak rambutnya frustasi lalu menaruh tasnya di lantai seraya menangkupkan kepalanya ke meja. Apa yang harus kulakukan sekarang? Batinnya.

“Hey…” Jieun mengerjap sebentar. Seperti terdengar suara yang memanggilnya.

“Hey, kau…” suara itu terdengar lagi. Jieun mengangkat kepalanya lalu mencari sumber suara tersebut. Didapati seorang laki-laki sedang memperhatikannya.

“Kau memanggilku?” tanya Jieun sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Iya kau. Kau tidak bawa pensil kan? Ini pakai punyaku saja” ujar laki-laki itu sambil menyodorkan sebuah pensil.

“Ehh?”

“Ayo cepat ambil, tes akan segera dimulai” sahutnya kembali.

Jieun mengambil pensil itu dari tangan laki-laki yang entah siapa dia. Laki-laki itu tersenyum, kemudia ia berbisik, “Hwaiting!”. Jieun terpanah sebentar melihat senyuman laki-laki itu. Sedetik kemudian dia memperhatikan pensil yang baru saja lelaki itu berikan. ‘Byun Baekhyun’ itulah yang tertera pada ujung pensil itu. Jieun tersenyum kecil lalu berdoa sebelum mengerjakan soal.

Semoga kami berdua lulus….

Jieun menghela nafas pendek. Kenapa kenangan itu terputar lagi dalam otakku? Batinnya. Kenangan yang tak akan pernah dia lupakan. Kenangan tentang cinta pertamanya. Dulu, sekitar lima bulan yang lalu, saat dia sedang mengikuti ujian masuk Universitas, seseorang lelaki telah menolongnya yang saat itu Jieun tidak membawa pensil.

Lelaki itu meminjamkan – atau lebih tepatnya memberikan – sebuah pensil kepada Jieun. Dan entah sejak kapan Jieun selalu teringat padanya. Terutama senyumnya yang menawan.

Tapi yang masih Jieun pertanyakan sampai saat ini, jika lelaki itu mendaftar ke Universitas yang sama dengan Jieun, mengapa Jieun tidak pernah melihatnya? Sewaktu pengumumanpun Jieun melihat namanya di daftar mahasiswa yang berhasil diterima di Universitas ini. Tapi kenapa Jieun tidak pernah bertemu dengannya?
Jieun memperhatikan pensil yang sedang digenggamnya. “Ah, bisakah aku bertemu denganmu lagi, malaikat penolongku?” Ucap Jieun.

“Lagi-lagi memikirkan laki-laki itu” Jieun tergelak saat sebuah suara mengagetkannya. Jieun menoleh dan mendapati seorang laki-laki dengan earphone ditangannya tengah berdiri di depan Jieun. Di sampingnya berdiri seorang gadis berkacamata yang juga tengah menatap Jieun.  Mereka adalah Chanyeol dan Sunny, dua orang sahabat baik Jieun. Mereka bersahabat sejak kecil. Yah, tentu saja mereka mengetahui cerita Jieun tentang laki-laki yang sudah menolongnya dulu.

“Sudah menemukan malaikat penolongmu itu, Jieun-ah?” Tanya Chanyeol dengan suara beratnya yang khas. Jieun hanya menggeleng pelan.

“Tapi sampai sekarang aku masih bingung, kalau dia memang diterima di sini, kenapa aku tidak pernah melihatnya masuk?” kata Sunny sambil membereskan poninya yang tertiup angin.

“Yah, itu juga lah yang selalu aku pertanyakan. Atau jangan-jangan sesuatu telah terjadi padanya sehingga ia …. “ belum sempat Jieun menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol menjitak ubun-ubun Jieun yang meninggalkan suara mengernyit.

“Jangan bicara yang tidak-tidak. Kampus itu luas… mungkin memang kita belum pernah bertemu dengannya saja”

“Ya, mungkin saja”

“Nah begitu. Oh ya, kau lapar Jieun?” Tanya Chanyeol sambil terus memainkan i-phone kesayangannya.

“Wae? Kau mau mentraktirku?” bukannya menjawab, Jieun malah bertanya balik yang membuat Chanyeol mendelik.

“Baiklah, aku yang traktir. Tapi pakai uangmu ya!”

“Aish, kau ini. Kalau tak punya uang, jual saja benda berharga mu itu” tutur Jieun sembari menunjuk-nunjuk benda mungil persegi panjang ditangan Chanyeol.

“Huh, enak saja. Ya, ya aku yang bayar. Puas?” Jieun terkikik, lelaki ini masih saja seperti anak kecil. Jieun memasukkan pensil itu ke dalam tas. Lalu beranjak dari tempat duduknya, menyusul Chanyeol dan Sunny yang sudah berjalan lebih dulu.

Setibanya di kantin Jieun langsung mengedarkan pandangannya mencari tempat kosong. Mengingat kantin saat ini yang begitu ramai. Jieun tersenyum saat menemukan satu meja kosong di sudut kantin. Jieun berjalan menuju meja itu, lalu duduk sambil memperhatikan Chanyeol yang tengah memesan makanan. Sementara Sunny, dilihatnya ia sedang mengobrol sebentar dengan teman sekelas mereka sebelum akhirnya menghampiri Jieun.

“Mana Chanyeol?” tanyanya. Jieun hanya menunjuk Chanyeol yang tengah membawa nampan berisi tiga mangkuk ramen dan tiga gelas jus jeruk.

“Ini pesanan anda, nona” kata Chanyeol sembari menaruh nampan itu di meja. Lalu duduk di hadapan Jieun.

“Kau berbakat menjadi pelayan, Chanyeol-ah” ejek Sunny yang dibalas dengan tatapan dingin lelaki itu. Sunny langsung bungkam sambil melirik ke arah lain. Jieun terkikik pelan. Aish, mereka berdua ini ada-ada saja.

Jieun mengambil satu gelas jus jeruk di meja, sambil bangkit dari duduknya. Jieun berniat menukar minumannya, mengingat Jieun yang tak suka jeruk. Chanyeol ini, apa ia lupa kalau Jieun membenci buah itu.

“Mau kemana Jieun-ah?” Tanya Chanyeol. Jieun hanya menyodorkan gelas jus itu padanya. Chanyeol mengangguk-angguk kecil.

“Mianhae, aku lupa kau benci jeruk” ucapnya sambil menggaruk belakang kepalanya.

Jieun berjalan hati-hati sambil membawa jus jeruknya itu. Namun tiba-tiba saja, seseorang menubruknya dari belakang, membuat jus yang dibawanya itu tumpah dan mengenai seseorang yang sedang berdiri di depan Jieun.

Oops, Jieun memandang ngeri lelaki yang baru saja terkena tumpahan jus jeruknya. Lelaki itu membalikkan badan dan menatap Jieun tajam. Jieun tersentak saat matanya bisa melihat jelas wajah lelaki itu. Wajah itu…sepertinya Jieun mengenalnya.

“Hei, kau sengaja ya?” sahut lelaki itu.

“Ah, mianhae. Aku benar-benar tidak sengaja” Jieun membungkukkan tubuhnya lalu memandang sekitar. Bisa dilihat semua pasang mata kini tengah tertuju pada mereka.

“Hey, kau sengaja kan?” Tanya lelaki itu lagi.

“Tidak. Aku tidak sengaja. Tadi ada yang mendorongku, tapi……” Jieun tidak mampu melanjutkan kalimatnya saat tidak menemukan sosok yang telah menubruknya tanpa dosa itu pergi. Diperhatikan lelaki di hadapan Jieun yang tengah menatapnya seram. Bahkan eyeliner yang dipakainya membuat lelaki itu terlihat lebih menyeramkan. Jieun menatap Chanyeol dan Sunny, mencoba meminta bantuan mereka. Tapi, keduanya hanya mengangkat bahu mereka. Mereka ini… apa mereka tidak tahu sahabatnya tengah kebingungan seperti ini.

“Kau sengaja melakukannya untuk menarik perhatianku kan?” celetuknya yang sukses membuat Jieun membelalakkan kedua bola matanya. Lelaki ini, astaga… pede sekali dia.

“Ya! Untuk apa aku menarik perhatianmu? Lagipula aku kan sudah minta maaf” sahut Jieun kesal.

“Huh, kau pikir dengan minta maaf saja cukup? Kau tak lihat bajuku basah seperti ini?”
Oh tidak, lelaki ini benar-benar membuat Jieun naik darah. Jieun melipat kedua tangannya di depan dada seraya memberikan tatapan menantang padanya.

“Lalu apa maumu?” tantang Jieun.

Ia terlihat berpikir sejenak, “Kau harus ganti rugi”
“Apa? Ganti rugi katamu? Kau kan hanya terkena tumpahan jus. Dan aku juga tidak sengaja melakukannya. Jadi untuk apa aku ganti rugi? Aku tidak mau” bentak Jieun seraya pergi dari hadapannya. Namun, lelaki itu dengan segera menarik tas Jieun, membuat tas yang Jieun sampirkan di bahunya itu jatuh. Membuat isi tasnya berantakkan, termasuk pensil itu.

Dengan cepat, Jieun menunduk untuk membereskan tasnya, tapi tiba-tiba lelaki itu mengambil pensil Jieun. Jieun terkejut dan tidak bisa berkata apapun. Jieun hanya bisa memandang lelaki itu, “Aaa, jangan!” teriaknya sambil mencoba mengambil pensil itu dari lelaki menyebalkan itu.

Lelaki itu memperhatikan pensil itu sebentar, lalu menatap Jieun.

“Kembalikan pensil itu. Itu pensil yang sangat berharga bagiku!!” teriak Jieun sambil berusaha mengambil pensilnya.

“Berharga?” lelaki itu mengangkat sebelah alisnya, “Kalau begitu ini buatku saja ya? Anggap saja sebagai ganti rugi darimu” ucapnya sambil berlalu.

“HEYYY” teriak Jieun. lelaki itu berbalik lalu mengeluarkan ujung lidahnya.
Dirasakan wajah Jieun memanas karena marah, “DASAR PENCURI!! KEMBALIKAN PENSILKU.. HEY!! DASAR MENYEBALKAN” baru saja Jieun akan mengejarnya, dirasakan seseorang menahan tubuhnya.

“Jieun, sudahlah. Jangan berurusan dengannya. Kau tahu? Dia itu lelaki yang paling ditakuti di sini” ucap Chanyeol sambil menarik Jieun.

“Tapi dia sudah mengambil pensilku…”

“Kau beruntung dia hanya mengambil pensilmu. Untung saja tadi dia tidak melukaimu..” tambah Sunny.

“Iya..tapi kan…”

‘Ta…tapi pensil itu kan berharga untukku’, batin Jieun dalam hati.

***

Setelah kejadian di kantin tadi, Jieun terus saja memikirkan lelaki yang sudah mencuri pensilnya yang berharga. Bahkan Jieun tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang tengah di jelaskan Dosen Kim di depan kelas. Apa yang dikatakannya hanya seperti angin lalu bagi Jieun.

Damn!

Jieun memegang kepalanya dan mengacak rambutnya pelan. Jieun sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.

“Ehem! Jieun-ssi, kau kenapa?” Tanya Dosen Kim. Jieun terkesiap melihat Dosen Kim dan teman-teman sekelasnya yang sedang melihatnya dengan tatapan aneh.

“Ah, aniyo. Gwaenchana, aku hanya ingin ke kamar kecil sebentar. Permisi” jawab Jieun sambil bangkit dari kursinya dan berjalan keluar ruangan.

Yah, mungkin dengan basuhan air, Jieun bisa menenangkan diri sedikit. Jieun melangkahkan kakinya dengan gontai menuju toilet yang tak jauh dari kelasnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok yang baru saja lewat di ujung koridor. Dia…lelaki yang tadi di kantin itu.

Jieun memutuskan untuk mengikuti lelaki itu, siapa tahu Jieun bisa mengambil pensilnya kembali. Dilihat lelaki itu berjalan menuju loker. Ia menaruh tasnya di loker, lalu pergi begitu saja tanpa mengambil kembali kunci lokernya yang masih menggantung.

Bagus, ini kesempatan untuk Jieun. Lelaki itu benar-benar ceroboh meninggalkan lokernya tanpa dikunci. Sebersit terlintas ide jahil di otak Jieun untuk menyembunyikan kunci lokernya. Tapi, buru-buru Jieun menghapus pemikiran itu dan memilih untuk segera mencari pensilnya sebelum ketahuan.

Jieun membuka lokernya pelan, matanya berbinar saat melihat tasnya. Akhirnya Jieun bisa mendapatkan pensilku kembali.

Klik!

Dirasakan kilatan flash mengenai wajahnya. Jieun menoleh dan mendapati lelaki itu tengah berdiri di sampingnya sambil menunjukkan evil smirk-nya.

“Hmm, kalau foto ini kusebar bagaimana jadinya ya?” katanya sambil menunjukkan layar ponselnya pada Jieun. Di sana Jieun melihat foto dirinya yang tengah membuka lokernya. Apa-apaan ini, Jieun terlihat seperti seorang pencuri dalam foto itu.

“Akhh, cepat hapus! Apa-apaan kau ini” teriak Jieun.

Lelaki itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, “Aku tidak akan menyebarkan foto itu jika kau mau menuruti kemauanku” ucapnya dingin.

“Apa?”

“Kalau aku memanggilmu kapanpun, di manapun, sedang apapun, kau harus datang menemuiku. Kalau tidak fotomu yang seperti pencuri itu akan ku sebar ke seluruh mahasiswa kampus, bagaimana?” katanya sambil memperlihatkan senyum evil miliknya.

“Apa kau bilang?” ucap Jieun sewot.

“Kau tidak mau? Kalau begitu bisa aku pastikan besok fotomu ini sudah tersebar” ancamnya.

Jieun mengepalkan tangannya kuat-kuat, “Baiklah kalau itu maumu. Akan aku turuti”

“Baguslah…” lelaki itu berlalu dari hadapannya, tapi tiba-tiba saja seseorang memanggilnya.

“Baekhyun-ah. Sedang apa kau disini?”

Jieun tersentak. Ap..apa? Baekhyun?? Lelaki menyebalkan itu bernama Baekhyun?

“Aku sedang ada urusan sebentar” katanya pada temannya itu.

“Baekhyun?” tanpa sadar, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Jieun.

“Ya?” lelaki itu menengok.

“Na…namamu Baekhyun?” tanyaku lagi.

“Ya.. namaku Baekhyun. Byun Baekhyun”

***

“Hahhhhh” Jieun menghela nafas dengan sangat berat sambil meremas rambut hitam panjangnya.

“Waeyo, Ji-ah?” Tanya Sunny.

“Baekhyun”

“Ada apa lagi dengan sang pengeranmu itu?” kali ini Chanyeol ikut berkomentar.

“Dia berubah menjadi lelaki yang menyeramkan”

Chanyeol dan Sunny saling berpandangan satu sama lain.

“Kau tahu kan lelaki yang tadi di kantin itu? DIALAH BYUN BAEKHYUNNN!!” teriak Jieun sambil menggebrak meja. Membuat suasana kelas yang hening menjadi gaduh.

“DIA…DIALAH CINTA PERTAMAKU YANG SELAMA INI AKU CARI-CARI…DIA YANG SUDAH MEMPERMALUKANKU DI KANTIN TADI…DIA…..” Jieun menghempaskan tubuhnya ke kursi kembali.

“Tidak usah berteriak seperti itu Lee Jieun. Lihat semua orang jadi memperhatikanmu” ujar Sunny sambil berusaha menenangkan sahabatnya yang sedang meledak-ledak.

Namun sepertinya Jieun tidak mendengarkan Sunny, gadis itu kembali mengoceh “Pantas saja aku merasa dia mirip seseorang. Ternyata dia adalah malaikatku. Tapi tadi dia memakai eyeliner jadi aku kurang mengenalinya. Tapi apa benar dia Baekhyun yang itu? AAA…OTTOKAE??”

BRAKK

Sunny memukul meja yang ada di depannya, “Tidak usah berteriak LEE JIEUN! Kau ini memalukan”

Jieun hanya menundukkan kepalanya. Matanya terlihat berkaca-kaca, “Habis kau tidak mengerti perasaanku, Sunny-ya”

“Mungkin dia bukan Byun Baekhyun, sang malaikatmu itu” ujar Chanyeol sambil menepuk-nepuk pundak Jieun, “Coba kau pastikan lagi dulu”
Pastikan lagi?? Ya mungkin saja dia bukan Byun Baekhyun, malaikatku. Pasti bukan. PASTI BUKAN. Gumam Jieun.

***

“YAA!!” teriak Jieun memanggil Baekhyun yang tengah merebahkan tubuhnya di bawah pohon di taman belakang kampus.

Baekhyun membuka sebelah matanya, “Kau? Aku kan tidak memanggilmu. Untuk apa ke sini?” Tanya Baekhyun sembari bangkit dan berjalan menuju Jieun yang tengah berdiri tak jauh darinya.

Jieun melihat pensilnya di kantong kemeja Baekhyun, “Pensil itu…” ucapnya lirih namun dapat didengar dengan jelas oleh Baekhyun.

Baekhyun melihat pensil yang ada di kantongnya dan mengambilnya, “Ini? Dulu pensil ini milikku. Kenapa bisa ada padamu?” Tanya Baekhyun polos.

Jieun menatap Baekhyun tidak percaya. Jadi? Dia benar-benar Baekhyun yang menolongnya dulu?

“Dulu…saat ujian masuk kau memberikan pensil itu padaku. Kau tidak ingat?” Tanya Jieun cemas.

Baekhyun terdiam, ia berpikir sejenak, “Hm, tapi aku tidak mengingatmu”
Jawaban Baekhyun membuat Jieun tersentak. Tanpa disadari, Baekhyun mendekat pada Jieun hingga jarak antara mereka benar-benar sangat dekat. Sampai-sampai wajahnya dan wajah Jieun hanya tinggal beberapa senti. Jieun bisa merasakan nafas lelaki itu yang menyapu wajahnya.

“Jangan-jangan, kau menyukaiku dari dulu ya?” kata Baekhyun sambil tersenyum sinis.
Wajah Jieun memerah, antara malu dan marah. Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sedetik kemudian, ia melayangkan sebuah tamparan di pipi kiri lelaki itu.

Baekhyun terkejut sambil memegangi pipinya yang terasa panas.

“Kau keterlaluan. Aku benci kau, Byun Baekhyun” ucap Jieun sedikit terisak. Gadis itu memutuskan untuk pergi dari hadapan Baekhyun. Berada lama-lama di dekat lelaki itu bisa membuat air matanya tumpah.

Baekhyun mengepalkan tangannya lalu menunduk, “Apa yang baru saja kau lakukan Byun Baekhyun? Mengapa kau begitu bodoh”



.:To Be Continue:.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar