.

Rabu, 18 Juni 2014

[FANFICTION] MELODY OF LOVE : 'YOU ARE TO ME'


Melody Of Love : “You Are To Me”

Author : Pabo Namja
Cast : Kim Joonmyeon, Sunny
Type : Oneshot
Genre : Romance
Inspired from Carly Rae Jepshen Song ‘Beautiful’

Series : Way for Love

**

“I know, I know it’s been a while
I wonder where you are, and if you think of me
Sometimes, got you always on my mind
You know I had it rough, trying to forget you but
The more that I look around, the more I realize
You’re all i’m looking for”
( Beautiful – Carly Rae Jepshen )

***

Sunny menghembuskan nafas panjang, saat kedua tangannya menutup pintu, dimana pada pintu itu tergantung papan identitas bertuliskan ‘Head Office, Kim Boss’. Matanya masih belum lepas dari papan identitas itu, sedangkan dua belah otaknya kembali memutar apa yang Bos nya katakan.

Sungguh sudah hampir dua bulan Sunny bekerja di caffee ini tidak pernah sekalipun merasa kesusahan. Baik itu dari pengunjung, rekan kerja ataupun Bosnya. Tidak sama sekali. Pekerjaan Sunny bisa dikatakan berjalan sangat lancar, sangat lancar. Sebelum tepat sejak dua minggu yang lalu, datang seorang pengujung yang selalu membawa Sunny dalam kebingungan yang berbuntut masalah dengan Boss nya

“Kau dipecat…??” tanya satu suara didepan Sunny. Perempuan lengkap dengan seragam caffe berwarna coklat dan nametag disebelah kiri seragamnya yang bertuliskan ‘Kwon Yuri’. “Sunny jangan katakan kau dipecat??” tanya perempuan itu lagi, dengan matanya yang membulat sempurna.

“Kau sungguh mengharap aku dipecat Kwon Yuri??,” tanya Sunny sambil memutar kedua bola matanya.

“YA…!! tentu saja tidak…” jawab Yuri sambil menghentakan kaki jenjangnya tanda dia tidak setuju. “Jadi apa yang Bos Kim katakan..?”

“Huft… dia hanya menegurku. Dia bilang untuk selalu fokus dalam pekerjaan, dan jangan sampai hal ini terulang lagi. Dan ini sungguh memberikan kesan buruk akan kinerjaku disini…” Jelas Sunny saat mereka melangkah dari depan ruangan Bos mereka, kembali menuju counter tempat Sunny dan Yuri bekerja. “Yuri… apa kau tidak merasa semua ini aneh??” lanjut Sunny.

eoh… aku juga merasa aneh…” jawab Yuri sambil mengangguk kecil setuju. Helai rambut yang keluar dari ikatannya terlihat menjuntai kedepan wajahnya saat dia mengangguk.

“Benarkan…. aku juga ini terasa janggal…” Ucap Sunny semangat. Dengan tangan kirinya Sunny membuka pintu yang menghubungkan mereka kecounter caffe ruang kerja mereka. Barista, pelayan dan pastry

“Benar, aku bahkan sudah mendiskusikan ini dengan Fanny. Dan kami setuju sepertinya Bos Kim suka padamu…”

What???? Apa maksudmu dia suka padaku? YA..!!!” tanpa sadar Sunny menghentakan tangan pada meja counter didepannya, kontan hal ini membuat beberapa pengunjung caffe meliriknya. Sunny membungkukan badan dan mengucapkan maaf beberapa kali sebelum akhirnya menarik Yuri menjauh dari hadapan pengunjung. “Apa maksudmu dengan Bos Kim suka padaku? Aku menanyakan tentang hal lain…”

“Kau menanyakan hal janggal bukan? Aku dan Fanny merasa janggal dengan tingkah Bos. Kau melakukan delapan kali kesalahan pada pengunjung yang sama , tapi Bos tidak memecatmu. Kau ingat yang terjadi pada Tao? Sifat teledor Tao yang kadang tanpa sengaja memecahkan cangkir ataupun piring berujung dengan Boss Kim memecatnya. Padahal kalau difkirkan lagi, apa yang Tao lakukan tidak akan merusak citra caffe ini … jadi apa kau fikir ini tidak terasa janggal???” jelas yuri sambil melipat kedua tangannya. Yuri marah? tidak, dia hanya kesal harus mengingat kembali bahwa Tao sudah tidak bekerja disana.

Sunny menautkan kedua alisnya tanda dia sedang berfikir. Dia juga baru menyadari hal ini tentang fakta mengapa ia tidak dipecat?.

“Tapi, aku merasa itu bukan kesalahanku…” jawab Sunny yang kali ini sudah merendahkan suaranya.

“Aku tahu… tapi tetap saja, ini terdengar aneh. Lalu apa yang menurutmu janggal??” tanya Yuri.

Sunny kembali menatap Yuri. Tadi dia sungguh ingin membuncahkan perasaannya yang mengganjal. Tapi saat Yuri mengungkapkan fakta bahwa dengan delapan kali kesalahan dia sama sekali tidak dipecat sedangkan kasus Tao sungguh berbeda dengannya. Saat itu Sunny merasa tidak enak dengan rekan kerjanya, Ya.. dia merasa semua ini tidak adil. Rasa bersalahpun menyelubungi hati Sunny saat itu.

“Kita bicarakan nanti.” Jawab Sunny yang kembali melangkah menuju kedalam caffe.

***

Suara ban berdecit menandakan sebuah mobil baru saja berhenti dengan bantuan rem terdengar disekitar parkiran sebuah caffe. Seorang lelaki yang duduk dibalik kemudi, mengalihkan fokusnya untuk mematikan mesin dan meraih kunci mobil. Sekali lagi lelaki itu melirik kaca mobil memastikan pantulan wajahnya sudah cukup sempurna. Baru saja dia akan membuka pintu mobil itu, benda kecil yang baru dia masukan kedalam saku celananya bergetar.

“Ehm…” jawab lelaki itu sambil membuka pintu, saat dia tahu siapa yang disebrang sana.

“Kau dimana Kim Joonmyeon…. ayah mencarimu. Tolong jangan sibukan aku dengan semua rencanamu….” celoteh satu suara disebang sana.

Lelaki yang tengah menekan tombol kunci pada mobilnya terlihat tertawa kecil. “Maafkan aku Noona, tapi aku pastikan semua ini akan berakhir sebentar lagi. Sampai saat itu tiba, bisakah Noonauntuk memastikan Ayah untuk tidak membatalkan semuanya??” lanjut lelaki bernama Kim JoonMyeon itu.

“Berapa lama lagi Joonmyeon…. aku bahkan sudah lebih jenius dari penulis untuk terus mengeluarkan cerita palsu pada ayah hanya untukmu….” lanjut perempuan disebrang sana, yang tidak lain adalah kakak perempuan Joonmyeon.

“Aku pastikan tidak akan lama… Please Noona, sebagai imbalannya aku akan menjamin proyek kekasihmu berjalan lancar, itu masa depan kalian bukan.. hahaha.”

“Kau memang penjilat handal tuan muda KIM….” timpal suara disebrang sana dengan tawa diujung kalimat.

“Dan sepertinya tuan Kim ini mewariasi sifat kakaknya, Nona Kim TaeYeon... ahahaha…”

Joonmyeon memasukan kunci mobil kedalam saku celananya. Dia memandang caffe yang berada tepat didepannya. Caffe bernama XOXO yang sebenarnya sudah satu bulan terkahir menjadi tempat yang sering ia kunjungi, meski baru dua minggu terakhir ini dia benar – benar berkunjung.

Noona… aku dalam perjalanan menyelesaikan Misi. Aku akan panggil kau nanti, Bye…

“Selesaikan secepatnya Joonmyeon…. ”

I Know… Noona…

Sambungan telfon ditutup. JoonMyeon melangkahkan kakinya menuju pintu masuk caffe itu. Dengan satu senyuman, dia memegang gagang pintu. Menit selanjutnya terdengar dentangan Bel, yang menandakan ada pengujung baru.

Joonmyeon segera menjelajahi isi caffe dan kembali tersenyum lebar saat matanya jatuh pada seorang wanita dengan seragam berwarna coklat tua di balik counter caffe, dengan rambut pirang sebahu. Seorang perempuan yang saat bertatapan secara tidak sengaja dengannya segera memasang wajah gusar.

“Ayo kita akhiri…” ucap Joonmyeon sambil melangkah.

***

“Satu capuccino Late dan…. satu slice red velvet…” ucap seorang pria didepan counter caffedengan senyum manis. Pakaiannya hari itu terbilang santai dari hari biasanya dia berkunjung. Dengan kemeja chekered hitam biru, celana jeans. “Dan kali ini, buat minumannya manis  Nona…” lanjut lelaki itu sambil berlalu menuju salah satu meja dekat jendela.

Kalimat terkahir lelaki itu kontan menarik perhatian semua pelayan caffe yang saat itu berada di balik counter . Termasuk Sunny, yang melayani pesanan lelaki tadi. Dan tentu saja kalimat lelaki itu dilayangkan pada Sunny.

Pengunjung baru yang selalu menarik Sunny pada masalah. Seorang lelaki yang membuatnya dipanggil sang Bos, lelaki yang membuat dia merasa bersalah karena merasa pelayan lain diperlakukan tidak adil akibatnya.

Ya, lelaki inilah yang dua minggu ini membuat Sunny merasa dibingungkan. Semua berawal saat kunjungan pertama lelaki itu dia memesan satu cup moccachino blend yang berujung dengancomplaint bahwa mocca pesanannya tidak terasa manis sama sekali. Sunny meminta maaf atas insiden tersebut. Namun tidak berhenti disana, karena dua hari kemudian lelaki itu kembali datang dan melakukan hal yang sama. Sunny masih meminta maaf dan merasa dia kurang konsentrasi, namun itu berlangsung sampai delapan kali. Insidennya tepat dua hari yang lalu yang kemudian berujung dengan teguran dari Bos nya. Sunny tidak bisa menganggap lagi enteng semua ini. Satu fikirannya, lelaki ini sedang mempermainnkannya, dia berniat hari ini akan terselesaikan.

“Apa dia akan berulah lagi Sun…??” tanya Jessica tepat dibelakang Sunny.

“Aku tidak tahu, yang pasti kali ini akan kuhabisi dia…” jawab Sunny yang mulai beranjak menujucoffee machine.

“Jangan berulah yang aneh – aneh, kau tidak mau MinSeok Hyeong memecatmu kan…” ucap satu suara. Seorang lelaki menggunakan seragam ala  chef dengan nametag ‘Do KyungSoo’ pattisiercaffe itu.

“Aku bahkan tidak menyesal bila Bos Kim memecatku…” jawab Sunny.
Sisa dari mereka tidak bisa berkata banyak. Mereka hanya membiarkan Sunny yang mulai sibuk dengan cappucino dan float putih.

“Bagaimana aku saja yang buat minumannya, ini akan aman…” sela Yuri yang coba meraih Cup ditangan Sunny.

“NO..!!! ” jawab Sunny dingin.Yuri yang melihat Sunny berada dalam ambang marahnya hanya bisa menjauh dan berkumpul dengan lainnya di pojok counter.

“Apa sebenarnya yang lelaki itu inginkan? Aku sangat yakin, Sun selalu memasang manis yang pas untuk tiap minuman…” celoteh Jessica yang sedang melipat tangannnya dan menatap Lelaki kemeja biru hitam di pojok caffe.

“Uhm… aku bahkan menyicipi sisa di coffe machine dikunjungan ke-empatnya… Musuh Sunny kah?? ” ucap Yuri menimpali celotehan Jessica.

“Kyungie…. satu red velvetnya cepat….” teriak Sunny mengalihkan perhatian Jessica dan Yuri yang sibuk dengan gossiping.  KyungSoo terlihat sedikit kaget, seribu langkah dia menuju tray didalam dapur dalam hitungan ke dua puluh, dia sudah kembali dengan satu piring dihias dengan stawberryiris dan tetesan madu serta satu slice red velvet.

“Kau memanggang ini sama dengan yang lain kan?” tanya Sunny.

Yeaps… ini sama dengan yang lain, aku sudah mencicipinya dan manisnya pas..” jawab KyungSoo.

“Ok thanks….

Sunny menempatkan piring cake dan dua cup Cappucino latte dalam nampan. Dengan langkah pasti, dia menghampiri lelaki itu.

“Kenapa Sunny membawa dua cup cappucino??? Aku yakin lelaki itu cuma memesan satu..” ucap Yuri.

“Dia datang lagi..??” tanya satu suara bergabung dipojok counter yang sontak mengagetkan Yuri, Jessica dan KyungSoo yang tengah memperhatikan Sunny dan lelaki itu. Ketiganya segera berbalik kebelakang dan mendapati Bos mereka Kim MinSeok tengah memandangi Sunny dan lelaki itu dengan senyum.

Yeaps… Hyeong… ” jawab KyungSoo.

“Bos.. apa menurutmu semua ini tidak aneh??,” tanya Jessica. MinSeok hanya memandang jessica sambil menautkan kedua alisnya dan menaikan bahunya.

“Sebelah mananya yang aneh??,” tanya MinSeok sambil tersenyum. Dia melipat kedua tangannya dan menunjuk dua manusia didepan sana. “Mereka… akan selesai hari ini..” lanjutnya sambil meninggalkan ketiga karyawannya yang menatap bingung.

“Apa maksudnya…??” tanya Jessica.

“Bos akan memecat Sunny…” ucap Yuri horor.

Jessica tidak mempedulikan perkataan mengerikan Yuri, dia kembali fokus menaruh dua manik matanya pada Sunny dengan nampan ditangan dan senyum diwajahnya yang menghampiri lelaki di pojok caffe.

***

“Pesanan anda tuan…” ucap Sunny saat dia berhasil menjangkau tempat si lelaki kemeja chekered.Lelaki itu yang tadi tengah sibuk memperhatikan lalu lalang diluar caffe, menoleh kearah Sunny dan tersenyum manis.

“Ah… terimakasih. Dan, kau bisa memanggilku Joonmyeon…” timpal lelaki itu. Sunny menghentikan aktifitasnya menaruh pesanan diatas meja dan menatap Joonmyeon. “Kau sudah bertemu denganku delapan kali disini. Ada baiknya kita saling mengenal bukan… Sunny-ssi..??” lanjut Joonmyeon itu dengan matanya yang mendapati nametag Sunny diseragamnnya.

“Ah,.. tentu,” jawab Sunny.

cup cappucino latte dan 1 slice red velvet. Sunny menyebutkan menu pesanan Joonmyeon itu sebelum kemudian dia meraih satu lagi cup dinampannya dan meletakan dimeja Joonmyeon.

“Aku hanya memesan satu minuman, Sunny-ssi…” ucap Joonmyeon itu saat melihat Sunny memberinya dua cup cappucino.

“Keberatan kutemani minum? itu untukmu dan ini punyaku…” jawab Sunny yang kemudian duduk dikursi didepan Joonmyeon dan meraih minumannya.

“Oh… tentu saja tidak…” Joonmyeon merapatkan kursinya dan tersenyum manis. “Mungkin semuanya akan terasa lebih baik jika kau menemaniku…” lanjut Joonmyeon dengan senyum yang tidak lepas sedikitpun dari wajahnya.

Sunny berfikiran mungkin lelaki ini seorang hidung belang, seorang playboy saat melihat gelagat JoonMyeon. Yang sama sekali tidak keberatan dengan pelayan yang tiba – tiba duduk didepannya. Juga satu lagi, senyum yang menurut Sunny sangat memancing.

Melihat senyumnya membuat tenggorokan Sunny kering seketika. Dengan ragu Sunny meraih cupmiliknya dan menegak sedikit dengan mata terpejam.

“Sudah berapa lama kau bekerja disini…” tanya Joonmyeon disela kegiataannya menghabiskan setengah dari red velvet miliknya.

“Belum terlalu lama…” jawab Sunny singkat membuat Joonmyeon yang saat itu tengah memandangi Sunny tertawa kecil. “Kenapa??” tanya Sunny.

“Tidak – tidak…” Joonmyeon melambaikan tangannnya membentuk gesture ‘tidak apa – apa.’ Masih dengan senyum diwajahnya, Joonmyeon beralih pada cup didepannya kemudian menegak cairan coklat itu.

Sunny memasang matanya tepat pada lelaki bernama JoonMyeon didepannya. Ketika Joonmyeon mengambil cup miliknya dan menegak minuman itu tanpa ragu. Sunny penasaran dengan ekspresi apa yang akan lelaki itu keluarkan. Setelah delapan kali berulah mengatakan tidak manis sama sekali dengan minumannya, kali Sunny memberikan minuman yang sama sekali tidak manis. Tiga sendok gula dia ganti dengan tiga sendok coklat bubuk, cukup imbang untuk satu rasa pahit menusuk bukan. Sunny tersenyum dalam diam membayangkan apa yang dia tuangkan dalam Cup itu.

JoonMyeon terlihat mem­-pause tegakannya. Dia kembali meletakan Cup miliknya yang sepertinya hanya baru satu tegakan masuk kedalam tenggorokannya.

“Untuk kali ini, rasa manisnya pas,” ucap joonmyeon sambil meraih tissue didepannya untuk mengelap noda coklat diujung bibirnya. “Terimakasih untuk minuman yang sangat manis ini..” lanjutnya sambil tersenyum.

Ini gila fikir Sunny. Saat dia memasang manis yang pas lelaki ini akan protes, dan saat dia memberikan pahit lelaki ini mengatakan sangat manis.

“Tentu, aku fikir kali ini aku memasang manis yang pas,” ucap Sunny sambil mengeletukan giginya menahan amarah.

“Semua akan terasa manis, saat aku bisa menatap wajahmu lagi, Lee SoonKyu.” Joonmyeon mendekatkan wajahnya kearah Sunny dan tersenyum. Membekaskan keterkejutan pada Sunny. Terkejut untuk senyum JoonMyeon dan satu nama yang dia ucapkan Lee SoonKyu.

“Siapa kau?” tanya Sunny dengan tatapan menghujani wajah Joonmyeon.

“Sungguh buruk kau tidak mengenalku,”

Joonmyeon meraih kunci mobil dan handphone yang tergelatak dimeja didepannya. Dengan satu gerakan dia memasukan benda – benda itu kedalam sakunya dan meraih tangan Sunny beranjak dari tempat itu.

JoonMyeon melayangkan pandangannya ke counter caffe. Saat mendapati lelaki dengan kemeja putih berdiri disana dia melambaikan tangan.

Hyeong, aku pinjam dulu pelayanmu sebentar,” teriak Joonmyeon yang dibalas anggukan lelaki itu.

Dua pelayan yang berdiri dibalik counter menatap lelaki kemeja putih yang dipanggil Hyeong dengan tatapan meminta jawaban.

“Sudah kubilang mereka akan berakhir hari ini bukan?”

***

Sunny merasakan sekujur tubuhnya bergerak tanpa kendali dirinya. Bagaimana bisa dia membiarkan lelaki itu menarik tangannya begitu saja, yang berujung dia juga membuat Sunny didalam mobilnya.

Dalam situasi normal Sunny mungkin akan berontak, tapi ada satu kondisi dimana Sunny merasa semua ini seperti flashback film. Saat lelaki bernama Joonmyeon yang saat ini duduk dibalik kemudi mobil mengucapkan satu nama ‘Lee SunKyu.’

Sunny kembali menyelami memorinya, tentang nama Lee SunKyu, nama kecilnya. Ya, dulu nama Sunny adalah Lee SunKyu, tapi tidak bertahan lama sampai dia mengganti nama menjadi Lee Sunny sejak menginjak umur 10 tahun. Tidak banyak yang mengetahui tentang nama masa kecilnya, hanya keluarga dan beberapa orang dimasa lalunya.

Dan Sunny yakin tidak ada anak bernama Kim JoonMyeon dimasa lalunya. Tidak. Tapi kemabli mengingat cara JoonMyeon tersenyum, mengingatkan Sunny pada senyum seseorang.

“Masih belum mengingatku?” tanya JoonMyeon memecah kesunyian didalam mobil itu. Dia melirik Sunny yang masih membatu dijok sebelahnya.

“Dari mana kau-” Sunny tidak menyelasikan kalimatnya. Diliriknya JoonMyeon disampingnya dan kembali menatapnya dengan teliti. Tapi nihil. Perubahan mungkin membawa efek besar, Sunny sama sekali tidak ingat siapa orang itu.

“Kau masih tidak suka saat ada orang dari masa lalu memanggilmu Sunkyu?” tanya JoonMyeon. “Sudah kukatakan, saat ada seseorang yang mengejekmu beri tahu aku. Saat itu akan kutunjukan pada mereka arti dibalik namamu. Apa kau lupa semua itu?” lanjut JoonMyeon yang saat itu juga melemparkan satu senyuman manis pada Sunny.

Sunny terhenyak.

Kalimat itu tidak pernah dia lupa. Seperti melihat buku masa lalu, lembaran demi lembaran kejadian tergambar dibenak Sunny. Kejadian dimasa Sunny sering menangis dibelakang rumah karena mereka yang mengejek nama Sunny, kemudian akan ada satu tangan yang menepuk punggungnya pelan dan berkata ‘harusnya kau bilang arti dibalik namamu, agar mereka tidak melakukan ini lagi.

Sunny melirik lagi Joonmyeon dan tanpa terasa air matanya menetes dimana menit selanjutnya juga membawa suara isakan.

“aku fikir kau sudah tahu siapa aku,” jawab Joonmyeon. Melihat Sunny yang menangis joonmyeon mengulurkan tangannya dan menepuk punggung Sunny pelan.

Sunny menahan tangan itu dan menatap siempunya. “Kim Suho….” ucap Sunny dengan suara bergetar.

“Ehem….. This is me SunKyu-ya… Kim Suho,” jawabnya. Joonmyeon atau Suho memarkirkan mobilnya dipinggir jalan sepi. Dia menghampiri SunKyu dan memeluknya pelan.

Sunny menghambur kedalam pelukan JoonMyeon. Kim Suho sosok bocah kecil yang sangat Sunny kenal dimasa lalu. Ayah Sunny merupakan dokter dirumah sakit anak, saat itu dia memiliki pasien bernama Kim Suho. Seorang bocah lelaki kurus, yang mengidap kelainan ginjal.

Sunny sering mengunjungi ayahnya kerumah sakit dan inilah yang membuat dia kenal juga akrab dengan Suho. Tapi tidak bertahan lama. Tiga tahun kemudian, Suho pindah ke amerika dengan alasan untuk mempercepat proses transplantasi ginjal karena dikorea masih sulit untuk menemukan donor.

Sunny yang saat itu masih kecil, mengira kepergian Suho yang tidak kunjung kembali adalah sebuah kematian. Mengingat Sunny tahu bahayanya penyakit Suho.

“aku fikir kau sudah mati,” ucap Sunny dalam pelukan Suho.

Suho yang mendegar kalimat itu terhenyak. Dia melapaskan pelukannya dan menatap Sunny dengan mata membulat. “Mwo?? Aku mati? Siapa yang membuat berita seperti itu?” tanya Suho lagi.

“Kau tidak mengabariku, tidak mengabari Ayahku, juga tidak mengabari siapapun saat itu. Ayah bilang penyakitmu parah, makanya aku fikir mungkin kau gagal penyembuhan disana.”

Suho kembali membulatkan matanya dan terperangah. “My God. Jadi selama ini kau mengira aku sudah tidak berpijak dibumi? Beruntung tuhan masih menyayangiku, coba imajinasimu itu menjadi kenyataan.”

“aku tidak tahu bodoh!” Sunny meninju bahu Suho pelan. “Dan mengapa kau mengganti nama menjadi Kim JoonMyeon?” tanya Sunny.

“aku tidak tahu kalau kau sungguh akan mengganti nama menajdi Lee Sunny, aku ingin menemanimu dengan memiliki nama kuno, maka dari itu aku menggunakan Kim JoonMyeon. Tapi melihat sekarang kau menggunakan nama Sunny, sepertinya aku akan mengembalikan namaku.” Jelas Suho panjang lebar.

“Ehm… aku lebih suka nama Suho. Terdengar bersahabat ditelingaku. Nama JoonMyeon hanya akan mengingatkanku atas sikap anehmu selama di caffe

“Aku tidak menyangka kau benar – benar akan lupa wujudku. Makanya aku mencoba untuk terus bertatap wajah denganmu. Berharap kau akan mengenaliku, tapi ternyata nihil. Otakmu sungguh kering Sunkyu-ya” ucap suho sambil menjitak kepala Sunny pelan.

“Sudah kukatakan, aku kira seorang Kim Suho sudah mati. Mana aku berfikir seorang yang mati akan berkunjung ke caffe.

“Ya ya ya! Berhenti mengatakan tentang kematian, kau membuatku takut tau..”

“Ahahaha…. arraseo tidak akan aku ucapkan lagi, karena sekarang Kim Suho ada didepanku.” Sunny kembali membaur kedalam pelukan Suho. “jadi ada alasan khusus kah kau menghantuiku selama dua minggu ini?” tanya Sunny.

Suho melepaskan pelukan Sunny, menangkup kedua pipinya dan menatap tepat dikedua iris coklat Sunny. “Jadi kenapa kau kabur dari rumah?” tanya Suho.

Sunny menurunkan tangan Suho, mengubah binar matanya menjadi aura sedih. “Aku…”

***

Bisa dikatakan seorang Kim Suho adalah magnet terkuat dalam hidup Sunny. Bila dia katakan A maka Sunny juga akan A, bila suho B begitu juga dengan Sunny.

Saat Suho bertanya mengapa Sunny melarikan diri dari rumah, dan menyuruhnya untuk kembali, disinilah Sunny sekarang. Kembali kerumah keluarga Lee, kembali kekamar kuningnya. Suho berkata, umur 22 bukan ukuran anak kecil untuk selalu menanggapi setiap masalah hanya dengan melarikan diri. Tidak ingin disamakan dengan anak kecil, akhirnya Sunny terpaksa mengundurkan diriny dari caffe yang selama ini menjadi tempat pelariannya, kembali kerumah menjadi Nona Lee.

Sunny baru kembali dari acara makan malam bersama ayah, ibu dan adiknya saat dia menerima panggilan dari nomor tidak dikenal. Menutup pintu kamar dan menjatuhkan tubuhnya diatas kasur kuning, Sunny menerima panggilan masuk itu.

“Halo.” Ucap Sunny.

“Hey! Lee SunKyu, apa kabarmu?” suara disebrang sana.

Sunny memposisikan tubuhnya duduk dengan bantal hati dipangkuannya. Sunny menautkan kedua halisnya, mencoba mengenali suara disebrang sana. Setiap yang memanggil dia Sunkyu itu berarti orang yang dia kenal.

“jangan bilang kau juga tidak ingat dengan suaraku,” ucapnya.

“Ehm….” Sunny ragu untuk mengutarakan tebakannya. “Taeyeon eonni…?” jawab Sunny ragu.

Terdengar suara tawa disebrang sana, Sunny menghembuskan nafas lega. Tebakannya betul. Siapa lagi perempuan dari masa lalu yang memiliki suara tawa seperti itu.

“Joon- ah maksudku Suho, menceritakan tentang pertemuan kalian tadi siang. Jadi sungguh kau mengira dia telah mati?” tanya Taeyeon dengan suara yang masih menyisakan tawa.

“Ahaha… kalian sama sekali tidak ada kabar eonni, ayah juga tidak mengabariku apa pun jadi aku fikir dia gagal pengobatan.”

“Beruntung imajinasimu tidak jadi kenyataan Sun,”

Mianhae eonni aku tidak bermaksud menyumpahi adikmu bernasib buruk, hehehhe. Jadi kapan tepatnya kalian kembali ke korea? Kenapa baru mengabariku sekarang?” tanya Sunny. Tadi siang dia sama sekali tidak menanyakan tentang kabar Suho, mereka terlarut dengan perbincangan tentang alasan Sunny meninggalkan rumah.

“Baru mengabari? Apa kau yakin Sun?” tanya Taeyeon dengan nada ragu. “Aku dan Suho sudah sekitar empat bulan disini, sedangkan orang tua kami baru sebulan yang lalu. Dan asal kau tahu, Suho telah membututimu sejak sebulan yang lalu. Termasuk insiden ditempatmu bekerja.”

“Jadi? Eonni tahu tentang semua ini? Tentang Suho yang mencoba mempermainkanku?”

“Aku dibungkam oleh sesuatu yang menguntungkan untuk tutup mulut olehnya. Ahahaha ”

Sunny dan Taeyeon larut dalam perbincangan menyenangkan. Layaknya teman lama yang baru bertemu meskipun pada kenyataannya seperti itu kondisi mereka. Mereka membicarakan tentang Suho dan proses penyembuhannya saat itu, tentang TaeYeon dan kekasihnya yang merupakan pilihan Suho, juga tentang kegiatan sebulan Suho membuntuti Sunny. Kesimpulannya, Sunny tahu banyak tentang kabar Suho malam ini.

Tentang dia yang sudah sembuh total dari penyakitnya.

“Jadi, apa besok kau tidak ada janji?” tanya Taeyeon tiba – tiba.

Sunny baru akan mengatakan ‘tidak ada’ dan berencana menghabiskan hari dikeluarga Kim tapi dia teringat akan janji dengan ayahnya.

“Maaf, eonni aku besok ada janji dengan ayah,” jawab Sunny dengan nada kecewa.

“Untuk?” tanya Taeyeon mencoba lebih mendetail.

“Ada perkumpulan keluarga eonni, mungkin lain waktu aku akan berkunjung kerumahmu.”

Percakapan berakhir dengan Taeyeon menagih janji Sunny untuk berkunjung kerumahnya dan menghabiskan waktu bersama.

Baru Sunny akan mematikan lampu kamarnya, satu pesan masuk kehandphonenya.

Kim Suho.
‘kau sudah bertatapan langsung dengan masalahmu? Jangan bilang kau hanya kembali kerumah dan membiarkan semuanya terjadi? Ayoo lah Lee Sunkyu…’

Sunny memutar bola matanya. Kejadian itu baru saja akan Sunny lupakan, dan bersiap tidur lelap, tapi Suho kembali mengingatkannya. Alasan mengapa Sunny meninggalkan rumah, alasan mengapa Sunny berkerja di caffe untuk menyambung hidupnya.

Karena satu alasan.

Sebuah perjodohan.

Ayah Sunny merencanakan sebuah perjodohan. Ini tidak masuk akal baginya. Umurnya masih terbilang muda untuk segera mengusung sebuah pernikahan dan dengan kasus perjodohan ini sungguh memberatkan Sunny.

Secara garis besarnya Sunny menolak semua itu apapun alasan sang ayah. Meninggalkan rumah dan mencoba melarikan diri dari masalah perjodohan itu.

Sunny meraih ponselnya dan mengetik dengan cepat.

Asal kau tahu, hari ini adalah hari paling melelahkan dalam hidupku. Tidak ada sisa tenaga untuk melawan masalah itu. Sekarang yang aku butuhkan adalah tidur baru besok aku berencana berperang dengan si masalah. Dan KAU! Jangan ganggu aku.
-Sent.

***

Terduduk didepan meja rias, Sunny pasrah untuk menjadi boneka ibunya. Satu yang dia ucapkan sejak pagi ‘Ini hari istimewamu Sunkyu, ibu ingin kau terlihat menawan didepan calon suamimu.’ Yah… Sunny sependapat. Setidaknya Sunny juga ingin tampil menawan untuk melangsungkan perang.

Kim Suho.
‘Perlu bantuanku untuk berperang hari ini? Mungkin aku bisa pura – pura menjadi kekasihmu dan membawamu pergi.’

Satu pesan masuk dari Kim Suho. Baru Sunny akan membalas pesan itu, satu ketukan terdengar dari pintu kamar Sunny.

Noona, mereka datang. Ayah menyuruhmu segera turun.” Ucap Sehun –adik Sunny- dari depan pintu.

“Ehm… segera,” jawab Sunny.
Sekali lagi Sunny memastikan bayangan dicermin. Meraih ponsel miliknya dan membalas pesan Suho.

Aku bisa melakukannya sendiri….
-Sent.

Sunny beranjak dari kamarnya yang berada dilantai dua. Berjalan menuju tangga, dengan hati berdebar dia menuruni setiap anak tangga yang akan menuntunnya menuju ruang tamu.

Berperang tentu menyisakan rasa takut bukan? Sunny takut dia tidak cukup kuat untuk melawan, Sunny takut ayahnya sama sekali tidak ada dipihaknya. Kembali terfikir haruskah Sunny menerima tawaran Suho untuk membantunya.

Langkah Sunny tiba dianak tangga terakhir. Terdengar suara beberapa orang dari ruang tamu tengah larut dalam perbincangan. Sunny mempercepat langkahnya, setelah berbelok kesebelah kanan dari arah tangga, dia sampai ruang tamu.
Sunny terdiam membatu.

Ada ayahnya, ibu dan Sehun adiknya yang tengah duduk disana. Dan dikursi sebrangnya ada empat orang tengah duduk dan sekarang beralih memandang Sunny. Empat orang yang sangat Sunny kenal. Empat orang itu adalah keluarga Kim. Tuan Kim, Ny.Kim, Kim Taeyeon dan…. Kim Suho.

Sunny masih terdiam disana memandangi setiap mereka yang tengah duduk, saat dia merasakan ponsel dalam genggamannya bergetar.

Kim Suho.
‘Tapi aku sudah terlanjur dirumahmu, ayo kita berperang sekarang.’

Satu pesan yang membuat Sunny melanjutkan langkah kemudian duduk disamping Ayahnya.

“Jadi apa kau menyesal dua bulan ini meninggalkan rumah karena rencana perjodohan ini?” tanya Ayah Sunny saat putrinya duduk disampingnya.

“Sunkyu-ya bertanya itu sesuatu yang penting sebelum memecahkan masalah,”

Noona sudah termakan emosi terlebih dahulu.”

Setiap orang disana mengeluarkan komentar masing – masing dari mulutnya. Tapi tidak satupun yang Sunny tanggapi, matanya masih terpaku pada lelaki dengan tuxedo didepannya. Lelaki dari masa lalunya, lelaki yang menghantui hidupnya selama dua minggu ini.

Satu pesan kembali masuk di ponsel Sunny.

Kim Suho.
‘Aku menepati janji dari masa lalu’
.
Kim Suho
‘Apa kau sadar apa yang sedang terjadi.?’

Sunny kembali menatap Suho kemudian satu senyum terukir diwajahnya disertai anggukan kecil.

***

“Ini hadiah pertama dariku untukmu, Sunkyu-ya, hadiah persahabatan.” Seorang bocah kecil memberikan sebuah cincin yang terbuat dari rumput liar pada gadis kecil didepannya.

“Cincin? Hadiah persahabatan?” tanya gadis kecil bernama Sunkyu sambil menerima cincin itu. “Persahabatan tidak ditandai dengan sebuah cincin Suho, cincin hanya untuk mereka yang menikah. Kau tahu ayah ibuku juga memiliki cincin yang sama dijarinya.” Lanjut Sunkyu, dia mengembalikan cincin itu pada anak bernama Suho.

Suho menerima cincin itu dan menatap Sunkyu. “Benarkah? Padahal aku mengahabiskan pagiku hanya untuk membuat ini..” ucap Suho. Kali ini dia juga melepas cincin rumput yang telah melingkar di jarinya.

Bangun pagi dan menghabiskan pagi ditaman memang sesuatu yang sulit bagi Suho. Mengingat ada beberapa pengobatan yang dia harus lalui dipagi hari. Saat inipun mereka bermain ditaman dengan Suho yang masih memegang selang infus.

Melihat apa yang Suho kerjakan menjadi sia – sia, Sunkyu merasa bersalah. Dia memasang senyum kemudian mengambil kembali cincin ditangan Suho.

“baiklah, akan aku pakai cincin ini….”

Suho tersenyum. Dia juga memasangkan kembali cincin dijarinya. “Aku memberikan cincinnnya sekarang, tapi kita menikah nanti saja bagaimana? Saat aku sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit ini kita akan menikah,” ucap Suho dengan senyum polosnya.

Sunkyu memasang senyum lebar dan menatap Suho bahagia. “Benarkah? Aaaa~ aku dan Suho akan menikah,” jerit sunny. “Ini akan menyenangkan Suho­-ya, kita akan bisa bermain bersma setiap hari, makan bersama, nonton tv bersama, seperti yang dilakukan ayah dan ibu..”

Suho membalas dengan anggukan semangat. Seorang suster menjemput Suho, waktu menandakan jadwalnya untuk minum obat. Setelah melambai satu sama lain, Suho pergi meninggalkan Sunkyu yang masih ditaman.

“Ayah, aku akan menikah dengan Suho saat dia sembuh nanti,” ucap Sunny dengan wajah berbinar saat dia bertemu ayahnya.


*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar