.

Jumat, 20 Juni 2014

[FANFICTION] A BAD OF BOY ; MY BAD BOY EP.3-END


A Bad of Boy ; My Bad Boy – Episode 3 : ‘Bad Boy & Happiness’ [END]

Author : Pabo Namja
Cast : Byun BaekHyun, IU
Type : Chaptered
Genre : Romance, Fluff, Comedy
Inspired from Haruka Fukushima’s Comic ‘Triple A (AAA)’

Preview EP.1 | EP.2

**

You are bad, but… I love you…

***

“Jieun….Jieun…YA!! LEE JIEUN!” Jieun terbangun dari tidurnya ketika Sunny berteriak keras di telinganya. Gadis itu mengerjap dan menatap Sunny. Rupanya gadis itu sudah tidak marah lagi padanya.

“Kau tidak ingin ke kantin?” Tanya Sunny. Jieun menggeleng pelan.

“Aku ingin tidur saja” jawab Jieun sambil menangkupkan kepalanya lagi ke meja.

Hari ini ia demam. Setelah kemarin ia kehujanan saat dalam perjalanan pulang bersama Baekhyun. Gadis itu memang sedikit bermasalah dengan kesehatannya. Ia tidak boleh kelelahan maupun kehujanan sedikit saja. Karena jika itu terjadi, maka kondisinya akan langsung drop seperti sekarang.

Drttt….

Jieun mengambil ponsel di sakunya ketika merasa benda kecil itu bergetar. Ia melihat satu pesan masuk untuknya. Tanpa melihat nama sang pengirim, ia sudah tahu dari siapa pesan itu. Yah, siapa lagi selain Byun Baekhyun.

Kutunggu kau di tempat biasa…

Walaupun terasa pusing, entah kenapa Jieun merasa bisa bangkit ketika ia berpikir bisa bertemu dengan Baekhyun. Aneh memang, tapi gadis itu merasa senang. Jieun berjalan pelan menyusuri koridor. Ia menggapai apapun yang bisa dijadikan pegangan untuk membantunya berjalan. Kepalanya benar-benar terasa pusing.

BRUKK!!

Karena Jieun berjalan dengan wajah tertunduk, gadis itu tidak melihat seorang lelaki yang tengah berjalan di depannya. Buku-buku yang di bawa lelaki itu jatuh berserakan di lantai. Dengan cepat, Jieun membantu lelaki itu merapihkan kembali buku-bukunya.

“Mianhamnida. Aku tidak sengaja” ucap Jieun.

“Gwaenchana” balas lelaki itu tersenyum ramah. Jieun tergelak, ia merasa mengenal lelaki ini. Gadis itu berusaha mengingat-ingat.

“Ah, kalau tidak salah kau kan yang kemarin membantuku di perpustakaan” seru Jieun saat ia sudah bisa mengingat lelaki itu. Lelaki itu memperhatikan Jieun sebentar.

“Ah benar, kau gadis yang kemarin. Tak ku sangka kita bertemu lagi” ucapnya. Lelaki itu berdiri setelah selesai membereskan buku-bukunya. Ia membantu Jieun yang terlihat kesulitan berdiri.

“Kebetulan sekali” sahut Jieun, “Err..ngomong-ngomong aku Lee Jieun, kau?” Tanya Jieun.
“Aku Kim Jongin. Tapi kau bisa memanggilku Kai. Aku lebih sering di panggil dengan nama itu” balasnya sambil membungkukkan badan.

“Senang berkenalan denganmu, Kai-ssi. Ah, sepertinya aku tidak bisa lama-lama. Aku sedang terburu-buru. Mianhamnida” ucap Jieun lagi seraya ikut membungkukkan badannya. Lelaki bernama Kim Jongin itu hanya membalasnya dengan tersenyum. Setelah perkenalan singkat itu, Jieun kembali berjalan ke taman belakang kampus, tempat di mana ia dan Baekhyun sering bertemu.

Gadis itu berjalan sempoyongan, sampai beberapa kali dia hampir jatuh. Lalu Jieun bisa melihat sosok Baekhyun yang sedang duduk bersandar di bawah pohon.

“Apa maumu, Byun Baekhyun?” Tanya Jieun langsung.

Dasar laki-laki sialan. Padahal aku sudah mengangapnya baik karena waktu itu sudah menungguku sampai malam, dan sekarang ia menyusahkanku lagi. Gerutu Jieun dalam hati.

Baekhyun menoleh, lalu langsung berdiri, “Aku ingin….” Baekhyun mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Jieun yang begitu pucat, “…kau sakit?” tanyanya.

Jieun mengangguk lemah, tangannya memegang pohon untuk menopang tubuhnya berdiri, “Demam” jawabnya singkat.

“Kenapa kau masuk?” Tanya Baekhyun cemas.

“Tadi aku ada tes” jawab Jieun lirih.

“Kau ini benar-benar keras kepala, Jieun..”

“Ck, cepat katakan apa maumu?” Baekhyun terdiam sambil memandang Jieun heran.

“Mianhae..” ucap Baekhyun.

Jieun mengerjap heran, “Untuk?”

Baekhyun menghela nafas, “Kau ini…tentu saja aku minta maaf atas perlakuanku padamu selama ini. Dan aku minta maaf karena menyuruhmu di saat yang tidak tepat” jelas Baekhyun.

Jieun tersenyum. Seorang Byun Baekhyun meminta maaf padanya? Ini benar-benar tidak bisa dipercaya, “Ya, gwaenchana. Aku tahu sikapmu memang seperti itu. Tidak memikirkan perasaan orang lain. Heh” ejek Jieun.

Baekhyun terlihat lebih rileks melihat Jieun yang masih seperti biasa. “Kembalilah ke kelasmu. Maaf sudah menyuruhmu datang kesini” lanjutnya.

Jieun mengangguk lalu membalikkan badannya. Seketika ia merasa dunia di sekitarnya berputar cepat. Rasanya sangat pusing dan ia merasa mual. Jieun sudah tidak bisa menahan tubuhnya, pandangan gadis itu mulai kabur. Dan tak lama ia jatuh tersungkur dan pingsan.
Baekhyun yang melihat itu langsung panik. Ia menghampiri tubuh Jieun dan mengguncang-guncangkannya. Tapi mata gadis itu tetap terpejam. Segera saja Baekhyun itu mengangkat Jieun ke atas pahanya.

“Jieun-ah..ireonna” Baekhyun terus berusaha membangunkan gadis itu. Tapi Jieun sepertinya benar-benar tidak sadarkan diri.

Apa yang harus kulakukan?

***

Jieun mengerjapkan matanya saat merasa pantulan hangat sinar matahari sore mengenai wajahnya. Pemandangan pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah wajah Baekhyun yang terlihat khawatir. Gadis itu terlonjak kaget dan langsung bangun dari tidurnya, mengambil posisi duduk dan menatap Baekhyun yang kini tengah tersenyum ke arahnya.

“Tidurmu nyenyak sekali di pangkuanku. Hahaha”  ejek Baekhyun.

“Kenapa aku bisa tidur di sini?” Tanya Jieun heran. Baekhyun menatap Jieun jengkel. Dia heran, gadis ini polos atau bodoh sih?

“Tadi kau pingsan, bodoh”

“Pingsan? Benarkah? Aigo…aku ada kelas.. dan sekarang sudah sore.. ottokae?” dengan panik dan tergesa-gesa, gadis itu berdiri sambil merapihkan rambutnya yang berantakan.

Karena Jieun berdiri dengan tiba-tiba, rasa pusing itu langsung melandanya lagi. Tubuhnya langsung limbung. Baekhyun yang melihatnya, segera menahan tubuh gadis itu agar ia tidak jatuh.

“Kau ini masih sakit, bodoh!”

“Berhenti memanggilku bodoh, Baekhyun!”

Baekhyun tersenyum kecil, “Dari dulu kau tidak berubah ya. Masih tetap panik”
Jieun terbelalak kaget. Apa? Dari dulu tidak berubah? Apa maksudnya? Apakah Baekhyun mengingat kejadian itu?

Baekhyun mengangkat tangannya untuk menyeka poni gadis yang masih menatapnya bingung itu. Lelaki itu kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Jieun dan menempelkan punggung tangannya ke kening Jieun. Baekhyun mengerjap sebentar, “Kau masih demam. Badanmu masih panas sekali” ujarnya.

Jieun yang terkejut dengan perlakuan Baekhyun, mendorong paksa agar lelaki itu menjauh.

“Kau…jangan menyentuhku!” teriaknya lalu berlari pergi meninggalkan Baekhyun.

***
Jieun berjalan lunglai di lorong menuju kelasnya. Setelah berlari dari Baekhyun tadi, ia merasa lelah. Mungkin karena kondisi tubuhnya yang memang sedang tidak baik. Gadis itu membuka pintu kelas, dilihatnya kelas itu sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa orang saja di dalam sana. Termasuk kedua sahabatnya, Chanyeol dan Sunny.

“Kau dari mana, Jieun-ah? Membolos dua mata kuliah hari ini” Tanya Chanyeol begitu ia tiba di dekat mereka.

“Kepalaku pusing, tadi aku ketiduran di ruang kesehatan” jawabnya berbohong. Mana mungkin ia jawab kalau tadi ia pingsan, apalagi sampai pingsan di pangkuan Baekhyun. Yang ada Sunny akan mengolok-oloknya habis-habisan.

Jieun mengambil tasnya sebentar, lalu kembali meninggalkan ruang kelasnya. Sunny dan Chanyeol hanya saling berpandangan heran. Akhir-akhir ini Jieun sering menghilang begitu saja. Dan kalau ditanya, gadis itu hanya menjawab ‘ada urusan sebentar’. Dan hari ini gadis itu kembali pergi begitu saja. Ia bahkan tidak mengikuti mata kuliah dari Dosen Jung dan Dosen Hwang, membuat Chanyeol dan Sunny kebingungan sekaligus khawatir dengan kondisi Jieun yang hari ini tampak tidak sehat. Tapi setelah melihat gadis itu yang terlihat lebih baik dari pagi hari tadi, mereka sedikit merasa lega. Setidaknya Jieun tidak apa-apa. Jieun sendiri, ia tak mungkin menceritakan tentang perjanjian konyolnya dengan Baekhyun. Chanyeol pasti akan memarahinya jika ia tahu akan hal itu.

Jieun berjalan menyusuri koridor. Ia ingin cepat-cepat berada di rumah. Tapi ketika melewati perpustakaan, ia berubah pikiran. Mungkin tidak ada salahnya jika ia tidur sebentar di perpustakaan. Jieun memang sering sekali tertidur di sana. Menurutnya, perpustakaan adalah tempat yang sangat cocok untuk tidur karena suasananya yang hening.

Jieun mengambil tempat duduk di sudut perpustakaan yang merupakan tempat favoritnya. Gadis itu langsung menangkupkan kepalanya ke meja. Kepalanya yang pusing dan matanya yang terasa berat memudahkanya untuk segera tidur.

***

Jieun membuka matanya perlahan. Rupanya dia sudah tertidur cukup lama di sini karena dilihat langit di luar sana sudah mulai gelap. Sesaat kemudian, Jieun mendengar suara ketukan di jendela. Badannya seketika mengejang. Perpustakaan ini di lantai dua. Mana mungkin ada yang mengetuk dari luar. Jieun terdiam, tetap menangkupkan kepalaku ke meja.

Tok…tok…tok…

Kali ini suara ketukan itu terdengar sedikit lebih keras. Siapa yang malam-malam seperti ini mengetuk jendela dari luar? Ingin sekali Jieun bangun dan melihat siapa di luar. Tapi bagaimana kalau itu hantu? Bagaimana kalau itu penjahat? Ah... Jieun benar-benar tak bisa membayangkannya.

Suara ketukan itu terdengar lagi. Dipejamkan mata Jieun erat-erat. Bagaimanapun Jieun harus bangun dan melihat siapa itu. Perlahan, Jieun membuka matanya dan berbalik menghadap jendela. Jieun terlonjak dan memekik pelan saat melihat sesosok gelap yang tengah menaiki pohon dekat dengan jendela. Karena di luar gelap, Jieun sama sekali tidak bisa melihat sosok itu. Tapi sosok itu seperti melambaikan tangannya pada Jieun.

Jieun mengernyit. Diputuskan untuk mendekati jendela dan membukanya. Jieun menyipitkan matanya, mencoba membiasakan matanya di kegelapan malam. Kuperhatikan sosok itu..lekuk tubuh itu…potongan rambut itu…itu kan…Baekhyun?

“Oi” panggilnya.

“Kau? Apa yang kau lakukan di situ? Bahaya, ayo turun! Kau bisa jatuh nanti” teriak Jieun sambil berusaha meraih tangannya. Namun lelaki itu segera menampik tangan Jieun keras.

“Kau jangan menyentuhku!”

Jieun memandang Baekhyun heran. Sepertinya Jieun tahu perkataan itu. Hey, itu kan perkataan yang diucapkan Jieun padanya sore tadi. Apa maksudnya ia berkata seperti itu? Ia marah pada Jieun?

“A..aku kan tidak bermaksud begitu. Mianhae. Lagipula kau tadi tiba-tiba mendekati wajahku, aku kan kaget” Jieun mencoba menjelaskan. Baekhyun mendekat ke jendela, lalu mencoba masuk ke dalam perpustakaan. Jieun mundur sedikit agar Baekhyun bisa masuk. Lelaki itu lalu duduk di kusen jendela. Ia kembali tersenyum licik. Sekarang apa lagi yang ia rencanakan?

“Berarti aku boleh menyentuhmu sekarang?” Tanya Baekhyun sambil tersenyum. Ia lalu meraih tangan Jieun agar Jieun mendekat padanya. Kemudian ia menyentuh wajah Jieun. Jieun yang panik karena diperlakukan seperti itu segera menutup kedua matanya. Dirasakan Baekhyun menyeka poninya dengan lembut. Jieun membuka matanya saat merasakan sesuatu yang dingin di keningnya. Diraba kening Jieun pelan.

“Ini…”

“Plester demam. Agar demammu cepat turun” jelasnya.

Jieun mengangguk. Tadi sempat terpikir olehnya kalau Baekhyun mau macam-macam. Tapi kenyataannya lelaki ini sangat baik mau berbuat seperti ini pada Jieun.

“Kau menungguku lagi?”tanya Jieun sedikit berharap.

Lelaki itu mengangguk, “Tadi aku melihatmu masuk ke perpustakaan. Dan aku mengawasimu yang tertidur dari luar. Ku kira kau pingsan lagi, makanya aku mengetuk jendelamu”

“Gomawo, padahal tadi sikapku padamu menyebalkan” ujar Jieun terkekeh mengingat kejadian tadi sore. Suasana di antara mereka berubah agak canggung, sampai tiba-tiba Jieun melihat seseorang masuk.

“Lho? Kau belum pulang Jieun-ah?” tanyanya. Oh ternyata Kai.

Jieun menggeleng, “Kau sendiri?”
“Bukuku tertinggal” jawabnya seraya mengambil sebuah buku yang tergeletak di atas meja. “Ng, kau bersama Byun Baekhyun?” tanyanya yang melihat Baekhyun yang duduk di kusen jendela. Baekhyun itu kemudian turun dari kusen jendela dan berjalan mendekati Jieun.

“Kalau iya kenapa?” jawabnya dingin sambil merangkul pundak Jieun. Ish, apa-apaan lelaki ini?

“Ah tidak. Kukira kalian bermusuhan karena insiden di kantin itu” tutur Kai yang mengingatkan Jieun pada pertemuannya dengan Baekhyun dulu, “Ya sudah, aku duluan ya” katanya sambil berlalu.

“Ya, hati-hati” jawab Jieun sambil melambaikan tangan ke arahnya. Membuat Baekhyun mencubit pipinya.

“Ish, kau ini apa-apaan? Mencubit pipi orang seenaknya. Sakit tahu” keluh Jieun sambil mengelus pipinya yang baru saja dicubit Baekhyun.

“Siapa dia?” Tanya Baekhyun sambil menatap Jieun penuh selidik.

“Eh? Dia? Namanya Kim Jongin. Aku baru mengenalnya siang tadi” jawab Jieun, “Wae?”

“Tidak, hanya saja aku tidak suka melihat caranya memandangmu. Sepertinya ia menyukaimu”

Jieun melepas rangkulan Baekhyun lalu menoyor kepalanya, “Bodoh! Mana mungkin. Kami baru berkenalan tadi. Lalu kenapa kalau ia menyukaiku? Kau cemburu ya? Iya kan? Mengaku saja lah” sembur Jieun yang membuat Baekhyun salah tingkah. Jieun terkikik melihatnya. Laki-laki ini benar-benar aneh.

“Huh, siapa juga yang cemburu” ujarnya, “Ini…”

“Heh?” Baekhyun mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Jieun. Itu adalah roti. Roti yang pernah ia berikan pada Jieun.

“Makanlah! Aku tahu kau belum makan seharian ini”

“Gomawo. Aku memang lapar sekali” kata Jieun lalu duduk di kursi tempatnya tadi sambil membuka bungkusan roti itu dan menggigitnya, “Roti ini enak sekali ya”

“Sebenarnya biasa saja, tapi karena kau memakannya selalu dalam keadaan lapar berat, maka terasa enak luar biasa” papar Baekhyun yang kini sudah duduk di samping Jieun. Jieun yang mendengarnya hanya tertawa sambil terus memakan roti itu.

“Hihi” tiba-tiba saja Baekhyun terkikik. Jieun menatapnya bingung. Baekhyun yang sepertinya mengerti maksud tatapan Jieun segera mengulurkan ibu jarinya ke sudut bibir Jieun. Hal yang dilakukannya itu seketika membuat gadis itu gugup.

“Belepotan. Haha” ujarnya seraya mengusap krim yang menempel di sudut bibir Jieun.

“Ng..gomawo” Jieun merasakan wajahnya mulai memanas. Jieun memakan roti itu sambil menundukkan kepalanya. Ini dia lakukan untuk menenangkan suasana hatinya yang saat ini sedang tidak karuan. Jantungnya seakan berdetak liar. Dirasakan ada aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya.

“Ayo cepat habiskan rotimu. Habis itu aku akan mengantarmu pulang”

“Ah, iya”

***

Hari ini matahari bersinar cerah, secerah hati Jieun. Demamnya pun sudah turun, sehingga membuatnya kembali bersemangat menjalani aktivitasnya seperti biasa. Dilangkahkan kakinya sambil menyenandungkan lagu kesukaannya, Baby don’t cry.

Jieun tersenyum lebar sambil membetulkan kerah kemejanya, “Mari kita mulai hari ini dengan senyuman” ucapnya sambil mengepalkan tangan. Sampai dirasakan seseorang merangkulnya dari belakang.

“Semangat sekali kau hari ini. Tidak seperti kemarin. Sudah seperti orang sekarat” ucap Chanyeol. Aku hanya nyengir.

“Kau itu memang aneh” tambah Sunny yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Jieun. Kami bertiga berjalan bersama menuju kelas. Sesekali Chanyeol mengeluarkan candaannya yang membuat kami tertawa. Dia ini memang benar-benar Happy virus.

Drttt…

Ponsel Jieun bergetar. Jieun merogoh sakunya untuk mengambilnya. Dilihat ke layar ponselnya menampilan satu pesan masuk. Yah, siapa lagi selain Baekhyun.

Tunggu aku di tempat biasa…

Apa? Apa-apaan laki-laki itu? Pagi-pagi seperti ini dia sudah merepotkanku. Gumam Jieun. Dimasukan kembali ponselnya sambil menghela nafas berat. Kenapa sih lelaki itu selalu merusak hari-hari indah Jieun?

“Ng, Chanyeol-ah, Sunny-ya, kalian duluan saja ke kelas. Aku mau ke toilet dulu” ujar Jieun yang langsung berlari menjauh dari mereka. Dengan segera Jieun menuju tempat biasa, taman belakang kampus. Sesampainya di sana, dia tidak melihat siapapun. ck, kenapa Jieun yang harus menunggunya?

Dilihat benda kecil yan melingkari pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum kelas pertamanya dimulai. Saat Jieun sedang mengalihkan pandangan pada jam tangannya, tiba-tiba saja seseorang menutup matanya. Jieun meraih tangan itu, lalu berusaha melepaskannya.

“Jangan bercanda, Baekhyun-ah!” saat Jieun berbalik untuk memarahinya, Jieun terkejut saat sosok yang tadi menutup matanya bukanlah Baekhyun melainkan…

“Kai” lirih Jieun. Lelaki itu tersenyum, “Sedang apa kau disini?”

“Aku tadi melihatmu sedang terburu-buru. Karena penasaran makanya aku mengikutimu. Kau sendiri sedang apa?” ia balik bertanya pada Jieun.
“Eh, aku…aku..”

“Menunggu Baekhyun ya?” tebaknya. Jieun terdiam sebentar kemudian mengangguk kecil, “Kalian sepertinya memiliki hubungan khusus, bukan begitu Jieun-ah?” tanyanya sambil tersenyum licik. Ia menatap Jieun dengan tatapan yang tidak bisa Jieun artikan. Tiba-tiba saja lelaki itu mendorong tubuh Jieun merapat ke pohon. Kai mencengram tangannya kuat-kuat.

“Kai, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Jieun mencoba untuk memberontak, namun Kai semakin mengencangkan cengkramannya pada kedua tangan Jieun. Ia juga menahan kaki Jieun dengan kakinya agar Jieun sama sekali tidak bisa bergerak. Ada apa dengan laki-laki ini? Apa yang akan dilakukannya pada Jieun?

Jieun merasakan ada sesuatu yang aneh dari kelakuan Kai. Lelaki ini semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Jieun lalu tiba-tiba tanpa pernah Jieun duga sebelumnya ia mendaratkan bibirnya di bibir Jieun. Jieun mencoba untuk memberontak, tapi laki-laki sialan itu seolah tidak memperdulikannya. Ia terus saja melumat habis bibir Jieun dengan kasar.

Jieun merasakan sesuatu yang hangat melintas di pipiku. Ya, aku mulai menangis. Tapi Kai sama sekali tidak melepaskan ciumannya. Dan Jieun mulai merasakan lidahnya bergerak liar mencari celah untuk masuk ke dalam mulut Jieun.

Jieun mengatupkan bibirnya kuat-kuat agar lidahnya tidak masuk ke mulut Jieun. Lama-kelamaan Jieun mulai sesak nafas dan lelaki brengsek yang baru beberapa hari Jieun kenal ini justru semakin menjadi-jadi. Seseorang tolonglah Jieun …

Tiba-tiba saja laki-laki ini melepaskan bibirnya dari bibir Jieun saat seseorang menarik kerah bajunya. Jieun berusaha melihat siapa orang yang baru saja menarik kerah baju Kai. Dan orang itu…Baekhyun.

***

Baekhyun berjalan santai menuju taman belakang kampus sambil bersiul kecil. Tapi langkah laki-laki itu terhenti saat melihat Jieun yang tengah berjalan di ujung koridor. Sepertinya gadis itu juga akan ke taman itu. Baru saja ia akan memanggil gadis itu saat ia melihat seorang lelaki yang berjalan mengendap-endap mengikuti Jieun.

Baekhyun menyipitkan matanya. Sepertinya ia pernah melihat laki-laki itu. Ia ingat, laki-laki itu yang ia temui di perpustakaan kemarin bersama Jieun. Dan kalau ia tidak salah namanya Kim Jongin. Tapi untuk apa ia mengikuti Jieun seperti itu?

Karena penasaran, Baekhyun memutuskan untuk mengawasi apa yang dilakukan laki-laki bernama Kim Jongin itu hingga ia melihat Jieun bersama laki-laki itu di taman belakang kampus. Baekhyun terkejut ketika melihat Kai yang tiba-tiba saja mencium Jieun. Tangannya mengepal karena marah. Dengan segera ia menghampiri mereka berdua dan langsung menarik kerah baju Kai agar laki-laki itu menjauh dari Jieun.

“KAU BENAR-BENAR INGIN KUBUNUH YA??” teriak Baekhyun, lalu menonjok Kai dengan keras. Kai langsung tersungkur. Laki-laki itu mengelap sedikit darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya.
“Huh, terserah apa yang kau lakukan padaku. Yang penting aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan” ucapnya kemudian bangkit, lalu pergi begitu saja sambil kembali tersenyum licik.

Baekhyun meremas tangannya kuat-kuat, ia ingin sekali mengejar Kai dan melayangkan satu pukulan lagi di wajah laki-laki itu. Tapi Baekhyun mengurungkan niatnya saat mendengar isakan halus Jieun. Baekhyun memperhatikan gadis yang kini tengah menangis itu. Dia masih syok akan ciuman tiba-tiba dari Kai tadi.

Kai menciumku? Dia merebut ciuman pertamaku? Dan Baekhyun melihat itu? Tadi aku berciuman dengan orang lain di depan orang yang ku sukai? Pikir Jieun.

“Hei, gwaenchana?” Tanya Baekhyun sambil menepuk-nepuk kedua pipi Jieun. Tapi gadis itu masih tetap tidak mau menghentikan air matanya.

“Berhentilah menangis! Itukan hanya ciuman” kata Baekhyun.

“Hanya ciuman katamu? Kau tidak mengerti karena kau bukan perempuan. Ciuman pertama itu sangat penting. Harusnya itu kita lakukan dengan orang yang kita sukai, tapi tadi…tadi…Kai sudah merebut ciuman pertamaku” kata Jieun di sela-sela isakannya.

Baekhyun menarik Jieun mendekat padanya hingga kening mereka bersentuhan, “Itu bukan yang pertama, bodoh” kata Baekhyun kemudian mencium bibir Jieun. Ia melumat bibir Jieun sesaat, lalu melepaskannya, “Ciuman pertamamu sudah kurebut saat kau pingsan kemarin” bisiknya di telinga Jieun.

“Hah?”

***

Baekhyun memandang wajah Jieun yang tengah terpejam di pangkuannya. Baekhyun melepas jaket yang ia kenakan, lalu menyelimuti Jieun. Ia kembali memperhatikan setiap lekuk wajah gadis yang tengah terlelap itu.

Tiba-tiba saja ia merasakan tendangan adrenalin yang kuat untuk mencium gadis yang ada di depannya ini. Perlahan Baekhyun menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Jieun. Jantungnya berdegup kencang sampai akhirnya bibirnya menyentuh bibir Jieun. Baekhyun menutup matanya, membiarkan dirinya tenggelam sesaat.

Perlahan lelaki itu bangun. Ia membanting tubuhnya sendiri dan kembali ke posisi semula. Ia menutup wajahnya dengan tangannya sendiri, “Astaga, apa yang baru saja kulakukan?” ucapnya pada dirinya sendiri.

***

“Mengerti? Dasar bodoh!” katanya sambil menarik Jieun ke dalam pelukannya.

Jieun tidak bisa berkata apa-apa. Mungkin itu efek ciuman Baekhyun, ditambah perkataan Baekhyun tentang dirinya yang sudah dicium lelaki itu saat pingsan. Baekhyun melepas pelukannya. Ia menatap Jieun yang masih terdiam.

“Kau, kenapa kau menciumku?”
Baekhyun menjitak kepala Jieun, “Kau ini bodoh atau apa sih? Tentu saja karena aku menyukaimu. Memang ada alasan lain?”

Air mata Jieun kembali menetes, membuat Baekhyun panik, “Aigo.. sudah jangan menangis lagi!”

Jieun menggeleng pelan sambil menyeka air mata dengan ujung lengan bajunya, “Aku hanya bahagia”

Baekhyun merangkul Jieun sambil menepuk-nepuk kepalanya. Mereka berdua kemudian duduk bersender di pohon.

“Hah, bisa-bisanya aku jatuh cinta pada gadis bodoh sepertimu”

Jieun menoyor kepala Baekhyun, “Berhenti memanggilku bodoh. Kau sendiri jauh lebih bodoh karena tidak ingat hari ketika kau meminjamkan pensilmu padaku” ucap Jieun.

Baekhyun mengerjap bingung, “Pensil? Maksudmu pensil ini? Aku mana mungkin lupa akan hal itu, bodoh”

Sekarang giliran Jieun yang memandang Baekhyun bingung, “Tapi waktu itu kau bilang kau tidak mengingatnya”

Baekhyun tersenyum, lalu menggenggam tangan Jieun.

“Hari itu, hari tes masuk universitas. Ada seorang perempuan duduk di sampingku yang panik karena tidak membawa pensil. Kelakuannya tidak seperti perempuan, membuatku tertarik padanya, lalu kuberikan pensilku padanya sambil berharap aku dan dia bisa lulus. Akhirnya doaku terkabul karena kami berhasil lulus”

Jieun menahan napas sambil membendung air matanya.

“Diam-diam aku selalu memperhatikan gadis itu. Aku berusaha mencari tahu tentang dirinya hingga aku tahu nama gadis itu, Lee Jieun. Suatu hari, saat aku sedang makan di kantin, seseorang menumpahkan jusnya di bajuku. Ternyata yang melakukannya adalah gadis itu. Itulah pertama kalinya kita berinteraksi lagi secara langsung. Mengetahui kalau pensil yang aku berikan padamu masih kau simpan dengan baik, dan kau bilang kalau itu barang berharga bagimu, itu aku senang bukan main hihihi” Baekhyun terkekeh.

Baekhyun menyenderkan kepalanya ke pundak Jieun.

“Aku berpura-pura tidak mengenalmu dan menyuruhmu untuk menuruti kemauanku adalah caraku agar aku bisa mendekatimu. Saat mengetahui kau sakit, entah mengapa aku juga merasa sakit. Tapi aku beruntung saat kau pingsan kemarin, karena dengan itu aku bisa merebut ciuman pertamamu. Haha” jelas Baekhyun yang di akhiri dengan tawa.

Mendengar tertawa Baekhyun yang puas, Jieun langsung menjitak kepala Baekhyun, “Dasar tidak sopan, menciumku diam-diam” bentak Jieun.

Baekhyun mengelus-elus kepalanya. “Kau memang tidak bisa bertindak seperti layaknya perempuan ya? ckckckck”
Jieun mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun, “Tapi kau tetap suka kan? Hehehe” Jieun tersenyum mengejek.

Baekhyun menatap mata Jieun, “Iya, aku terlalu menyukaimu, sampai-sampai aku merasa seperti orang bodoh” katanya sambil menempelkan keningnya ke kening Jieun. Lalu memejamkan matanya.

Jieun tersenyum tertahan, “Aku juga, aku juga sangat menyukaimu Byun Baekhyun”
Tanpa sadar Baekhyun memajukan wajahnya hingga sangat dekat dengan wajah Jieun. Mata gadis itu membelalak saat mendapati wajah Baekhyun yang tinggal beberapa senti lagi dari wajahnya. Dilihatnya Baekhyun menutup kedua matanya. Jieun terdiam. Gadis itu ikut memejamkan matanya, seolah-olah mengerti apa maksud tindakan Baekhyun. Dekat…dekat..dan semakin dekat. Hingga kedua ujung hidung mereka bersentuhan satu sama lain dan…

CHU~ 


END.

1 komentar:

  1. aku suka ff nya author, baekhyun dan IU cast favoritku. buat lgi ya dgn cast yg sma, fighting author!!

    BalasHapus