.

Rabu, 18 Juni 2014

[FANFICTION] A BAD OF BOY ; MY BAD BOY EP.2


A Bad of Boy ; My Bad Boy – Episode 2 : ‘Bad Boy & Waiting’

Author : Pabo Namja (Dhany Yanuar)
Cast : Byun BaekHyun, IU
Type : Chaptered
Genre : Romance, Fluff
Inspired from Haruka Fukushima’s Comic ‘Triple A (AAA)’

Preview EP.1 

**

You are bad, but… I love you…

***

Hm, tapi aku tidak mengingatmu

Pikiran Jieun kembali melayang pada perkataan Baekhyun kemarin. Jieun menghela nafas entah sudah yang keberapa kalinya dalam satu hari ini. Mulai dari bangun tidur, sampai sekarang Jieun sedang berada di kelas bersama kedua sahabatnya, Chanyeol dan Sunny.

“Hey, Jieun”

Jieun menoleh ke arah Sunny yang memanggilnya, “Ada apa?”

Sunny hanya menghela nafasnya, kenapa dia jadi ikut-ikutan?

“Aku tahu kalau kau sedang stress. Aku tahu cinta pertamamu berubah menjadi berandalan seperti itu. Dan aku tahu kalau dia tidak mengingatmu. Aku juga tahu kalau kau sedang patah hati, tapi bukan berarti penampilanmu jadi berantakkan seperti ini kan?” cerocosnya.

“Sunny, jangan teriak-teriak” ucap Chanyeol.

“Baju berantakan, rambut awut-awutan, ponimu ke sana kemari. Ish, kau ini seperti anak yang tidak diurus orangtuanya” komentar Sunny sambil merapikan poni Jieun dengan jari-jarinya.

Jieun hanya memandangnya cuek, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela. Lalu menghela nafas lagi.

“Ini sudah yang kesekian kalinya, Jieun. Berhentilah menghela nafas” perintah Sunny. Jieun melirik ke arahnya.

“Bisakah kau diam, Lee Sunny? Aku sedang pusing. Mendengar celotehanmu itu membuat kepalaku semakin sakit” ujar Jieun seraya menangkupkan wajahnya di meja. Gadis itu diam sambil mengerucutkan bibirnya.

“Aku kan hanya mencoba menasihatimu, ya sudah kalau tidak mau dengar” ia merengut, lalu kembali ke kursinya. Suasana di antara mereka berubah canggung.

“Hei…hei…kalian jangan bermusuhan seperti ini” Chanyeol yang sedari tadi melihatnya mencoba kembali menghidupkan suasana.

“Siapa yang bermusuhan? Kami hanya beradu pendapat” kilah Sunny, ia masih tak mau menoleh ke arah Jieun. Huh, masa bodo. Jieun sedang tak ingin memikirkannya sekarang. Jieun tidak mau tambah pusing dengan keadaan ini, memikirkan Baekhyun saja sudah membuatnya stress. Biarkan saja, toh tidak akan lama Sunny juga akan kembali seperti biasanya.

Drrrttt…

Jieun bisa merasakan ponsel dalam sakunya bergetar. Dikeluarkan ponselnya dari dalam saku dan melihat ke layar. Ada pesan masuk.. dari Baekhyun? Dengan segera Jieun membuka pesan itu.

Temui aku di taman belakang kampus sekarang….

Jieun mendengus, lalu memasukkan ponselnya kembali. Jieun memutuskan untuk segera menemui lelaki itu.

“Mau kemana?” Tanya Chanyeol melihat Jieun yang beranjak dari kursinya.

“Ada urusan sebentar” jawab Jieun sekenanya. Ekor mata Jieun dapat menangkap Sunny yang tengah memandangnya, namun ia buru-buru memalingkan wajahnya lagi saat Jieun melihat ke arahnya.

Jieun melangkah lunglai menuju taman belakang kampus. Setibanya di sana, bisa dilihat Baekhyun yang tengah tertidur di bawah pohon – lagi – dengan buku yang menutupi wajahnya.

Jieun menelan ludah. Harus bagaimana lagi Jieun menghadapi makhluk satu ini? Setelah kemarin Jieun berkata bahwa Jieun membencinya sambil menangis. Jieun berjalan mendekati Baekhyun lalu berjongkok di sampingnya dan mengangkat buku yang menutupi wajahnya.

Tanpa sadar, Jieun terpesona akan wajah polosnya yang sedang tertidur. Wajahnya mulus tanpa cela. Beberapa helai rambut jatuh ke dahi lelaki itu karena tertiup angin. Tanpa sadar, tangan Jieun terjulur untuk menyeka rambutnya itu.

Namun tiba-tiba saja tangan Baekhyun bergerak dan menangkap tangan Jieun yang ingin menyentuh dahinya. Dan lelaki itu membuka matanya secara tiba-tiba seraya menyunggingkan senyuman evilnya itu.

Jieun yang terkejut, buru-buru berdiri. Namun, tangannya masih digenggam oleh Baekhyun. Sekarang lelaki itu sudah berdiri di hadapan Jieun tanpa melepaskan cengkraman tangannya yang kuat.

“Aww,,” Jieun meringis pelan, membuat lelaki itu melepaskan cengkramannya.

“Apa yang kau lakukan? Sakit tahu” keluh Jieun sambil mengibaskan tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman Baekhyun yang terlalu kuat.

“Aku hanya sedang melindungi diriku. Tadi kau ingin menyerangku yang sedang tidur kan? Tadi kau ingin memegang wajahku lalu menciumku kan? Aku sudah bisa membaca gerak-gerikmu, Jieun-ah” celetuknya sambil tersenyum nakal.

“Apa? Menciummu? Memegang wajahmu? Yang benar saja! Aku hanya ingin menjitakmu. Huh” balas Jieun tak mau kalah. Lagipula memang benarkan? Jieun memang tidak berniat menyentuh wajahnya apalagi menciumnya. Hanya saja… Jieun hanya ingin merapihkan rambutnya yang berantakan.
Dilihat Baekhyun kembali berbaring di bawah pohon. Jieun meliriknya sekilas. Dan ternyata ia tengah menatapnya.

“Apa kau lihat-lihat? Kau…” belum selesai Jieun bicara, lelaki itu meraih tangannya dan menariknya. Membuat tubuh Jieun jatuh menimpa tubuhnya secara sempurna. terdengar ia sedikit meringis. Uh, apa Jieun seberat itu?

Saat ini Jieun baru menyadari wajahnya dan wajah Baekhyun sangatlah dekat. Membuat jantungnya mempercepat irama detakannya. Dan saat Jieun menatap matanya, dilihat sebuah keteduhan di sana. Dirasakan waktu berhenti saat itu juga. Ternyata Jieun memang begitu menyukai lelaki ini. Jieun hanya bisa berdoa semoga saja Baekhyun tidak mendengar degup jantungnya yang sedang tidak karuan.

“Memangnya aku setampan itu ya?” ucap Baekhyun membuat Jieun tersadar dari lamunan sesaatnya. Jieun terlonjak, dan segera menarik tubuhnya dari atas tubuh Baekhyun. Jieun duduk di samping Baekhyun yang juga tengah merubah posisinya menjadi duduk seperti Jieun.

“Kau tadi memperhatikanku dengan tatapan seperti ingin menciumku, Jieun-ah” ejek Baekhyun yang membuat wajah Jieun terasa panas. Mungkin wajahnya sudah memerah sekarang.

“A..aku hanya terkejut. Dan bisakah kau bersikap lembut sedikit terhadap wanita, hah?” tanya Jieun mencoba mengalihkan pembicaraan.

Lelaki di samping Jieun ini terkekeh, “Aku selalu bersikap lembut pada setiap wanita. Tapi kalau untukmu, itu pengecualian”

Jieun tergelak, dan langsung saja mendaratkan sebuat jitakan di kepalanya. Baekhyun meringis kecil.

“Kau ini kasar sekali” ujarnya sambil mengelus-elus bekas jitakan Jieun tadi.

“Itu pantas untukmu, Byun Baekhyun”

Lelaki itu mendengus lalu bangkit berdiri, “Kau bawa apa?” tanyanya.

Jieun menautkan kedua alisnya sambil ikut berdiri, “Apa?”

“Kau tidak membawa apapun ke sini? Makanan? Minuman?” Tanya Baekhyun.

“Hah? Untuk apa?” tanya Jieun tak mengerti.

Dilihat Baekhyun memutar bola matanya jengkel, “Tanpa harus ku beritahu harusnya kau sudah inisiatif sendiri untuk membawakan sesuatu untukku”

“Mana kutahu. Lagipula kita tidak punya perjanjian seperti itu kan? Aku tidak harus membawa bekal untukmu” Jieun berusaha membela diri.

Baekhyun tersenyum licik. Lalu ia berjalan mendekatik Jieun perlahan, “Kalau begitu…” kemudian lelaki itu mendekatkan mulutnya ke telinga Jieun, “…mulai besok kau harus bawakan bekal untukku, oke?” lalu lelaki itu berlalu sambil menepuk pundak Jieun. Sedangkan Jieun hanya bisa mematung karena Baekhyun yang tiba-tiba mendekatinya seperti itu.

“Dan satu lagi…” teriak Baekhyun yang membuat Jieun berbalik menghadapnya, “Rapihkan penampilanmu itu. Aku ingin kau terlihat rapi di depanku” lanjutnya sambil tersenyum.

Jieun terbelalak. Apa? Memangnya siapa dia? Seenaknya saja mengaturku seperti itu. Batin Jieun.

***

Jieun menghela nafas berat. Hal yang sudah sering dilakukan sejak kemarin. Hari ini, sesuai dengan perintah lelaki menyebalkan itu, Jieun membawakan bekal untuknya. Jieun memang tidak pandai memasak, tapi Jieun harap ia menyukai masakannya ini.

Jieun berjalan pelan melewati koridor menuju taman belakang kampus. Tempat mereka biasa bertemu. Mata Jieun berusaha mencari sosok lelaki itu saat Jieun melihat tidak ada siapapun di taman. Jieun kembali menghela nafas dan memutuskan untuk duduk sambil menunggunya.

Diperhatikan sekeliling, pemandangan di sini cukup indah. Udaranya pun sejuk, Jieun bisa merasakannya. Angin yang membelai wajahnya dengan lembut. Pantas saja Baekhyun suka sekali berada di sini.

Saat Jieun sedang sibuk berkutat dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Seseorang mengejutkannya dari belakang. Membuat Jieun terlonjak dan bekal di tangannya hampir saja tumpah. Jieun menoleh untuk melihat siapa yang baru saja mengagetkannya itu. Jieun hanya mendengus saat melihat Baekhyun tengah tertawa jahil.

“Huh, tidak ada yang lucu. Berhentilah tertawa, Byun Baekhyun!”

“Tidak, hanya saja ekspresi terkejutmu itu lucu sekali” bukannya berhenti, tawanya semakin meledak. Membuat Jieun bertambah kesal. Sepuluh detik kemudian, ia menghentikan tawanya dan memandang kotak bekal di tangan Jieun.

“Kau bawa apa?” tanyanya. Jieun langsung menyodorkan kotak bekal yang ia bawa padanya.

“Lihat saja sendiri” jawab Jieun.

Baekhyun meraih kotak bekal itu dan membukanya.

“Hm…sup kimchi? Lumayan” komentar Baekhyun. Lalu ia mencicipi bekal buatan Jieun. Mengunyahnya perlahan. Jieun hanya bisa menunggu reaksinya dengan cemas.

“Enak...” Seulas senyum terlukis di wajah Jieun, lalu Jieun mendekatkan tubuhnya ke arah Baekhyun, “Benarkah? Wahh…”

Baekhyun menyendokkan satu sendok sup kimchi lalu menyodorkannya pada Jieun, “Coba saja!” katanya.
Jieun sedikit kaget. Baekhyun ingin menyuapi Jieun? Wahh, romantis sekali. Jieun membuka mulutnya. Tinggal sedikit lagi sampai sendok itu menyentuh bibirnya, Baekhyun buru-buru menariknya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Sampai akhirnya Baekhyun bisa menelan supnya barulah lelaki itu tertawa terbahak-bahak.

“HAHAHAHA…Astaga Jieun. Kau lapar ya? Tampangmu itu…huft..seperti belum makan berhari-hari..hahahaha” Lelaki itu tertawa puas sekali sambil mengacak-acak rambut Jieun, “Dasar, kau ini bodoh sekali..hahaha”

Jieun menggembungkan pipinya sambil menunduk malu. Sedangkan Baekhyun tetap makan sambil sesekali tertawa geli. Ini menjengkelkan.

“Aaa aku kenyang” ucap Baekhyun saat sup kimchi itu habis. Ia menutup kotak bekalnya dan memberikannya pada Jieun.

“Besok bawakan bekal lagi ya?” lanjutnya. Jieun hanya mengangguk pasrah. Tanpa Jieun duga, lelaki itu megelus puncak kepala Jieun pelan.

“Kau sendiri bagaimana? Daritadi aku belum melihatmu makan”

“Aku…aku sedang diet” jawab Jieun singkat.

“Diet? Begitu ya? Padahal aku baru saja ingin memberimu roti. Tapi karena kau sedang diet, roti ini untukku sajalah” ujarnya sambil mengeluarkan roti dari sakunya.

“Ehh, kau kan katanya sudah kenyang, jadi roti ini untukku saja ya” Jieun merampas roti itu dari tangan Baekhyun lalu membuka plastik roti itu sambil tersenyum cerah kemudian memakannya dengan lahap.

“Dasar, kau gadis bodoh” ejeknya.

“Terserah apa katamu sajalah” ujar Jieun masih terus melahap roti itu.

Baekhyun tertawa kecil, membuat matanya yang sipit itu jadi terlihat segaris. Rupanya senyum itu masih terlihat menawan.

Setelah menghabiskan waktu siangnya bersama Baekhyun, Jieun memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Mengingat hari ini Jieun tidak ada kelas. Jieun mengedarkan pandangannya untuk mencari buku yang setidaknya bisa ia baca. Telunjuknya mengabsen satu persatu buku yang ada di rak. Jieun tersenyum saat menemukan satu buku yang menarik perhatiannya. Buku tentang eksplorasi dan batuan. Yah, Jieun memang sangat menyukainya.

Jieun berusaha meraih buku itu. “Ish, kenapa buku ini diletakkan di rak teratas? Aku kan jadi sulit mengambilnya.” Ucap Jieun. Jieun berjinjit untuk menambah tinggi badannya. Aish, tinggi sekali untuk ukuran tubuhnya yang mungil itu. Sudah hampir sepuluh menit dia habiskan untuk mengambil buku itu, tapi sepertinya usahanya percuma. Andai saja Jieun memiliki tubuh seperti Sooyoung SNSD, pasti tidak akan sesulit ini untuk mengambilnya.

Saat Jieun terus menerus berusaha mengambil buku itu, tiba-tiba saja seseorang datang dan mengambilkan buku itu untuknya.

“Ini...” ucapnya sambil menyerahkan buku itu pada Jieun. Jieun mendongakkan kepalanya untuk melihat wajahnya. Ia tersenyum pada Jieun. Dan senyumannya itu sungguh manis.

“Ah, Gomawo” kata Jieun pelan seraya mengambil buku yang di sodorkannya pada Jieun. Kemudian Jieun memilih untuk duduk di sudut perpustakaan. Tempat ini memang menjadi tempat favoritnya. Jieun duduk di sana dan mulai membuka lembaran demi lembaran buku tebal yang ada.

Detik demi detik berlalu, suasana hening perpustakan membuat mata Jieun yang sedang membaca terasa berat. Jieun memutuskan untuk tidur sebentar, suasana sepi seperti ini memang paling tepat untuk tidur. Tak sampai semenit, Jieun sudah menjelajah ke dunia mimpi.

***

Jieun terbangun saat dirasakan tangan dingin menyentuh tengkuknya. Jieun mengerjap sebentar dan mendapati seorang wanita kira-kira berusia 40 tahun berdiri di hadapannya.

“Ini sudah malam. Perpustakaan akan tutup” ucapnya yang ternyata adalah penjaga perpustakaan. Jieun melirik jam tangannya. Jarum pendeknya menunjuk angka delapan. Aish, bisa-bisanya dia ketiduran selama ini.

“Ah, maaf” ujar Jieun seraya membereskan buku yang tadi dia baca. Dengan terburu-buru Jieun keluar perpustakaan dan melewati lorong. Kampus sudah sepi. Yeah, jam segini pasti orang-orang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.

Jieun melihat ke jendela sebentar. Di luar sudah sangat gelap, Jieun harus cepat pulang. Jieun makin mempercepat langkahnya saat Jieun sudah dekat dengan pintu gerbang. Saat Jieun hampir saja tiba di gerbang, tiba-tiba ada sebuah suara yang memanggilnya.

“Hey”

“HUAAAAAA” teriak Jieun dan langsung berjongkok dan menutupi kepalanya.

“Hey, Jieun-ah. Ini aku, bodoh”

Jieun mengerjap. Jieun kenal suara ini dan yang memanggilnya dengan sebutan bodoh..hanya orang itu. Jieun mendongak untuk memastikan. Dilihat Baekhyun sedang berkacak pinggang di depannya.

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” Tanya Baekhyun. Jieun berdiri lemas.

“Aku ketiduran di perpustakaan. Kau sendiri? Apa yang kau lakukan?”

“Aku….”

Entah mengapa Baekhyun jadi salah tingkah. Sebenarnya Baekhyun sengaja menunggu Jieun. Tapi, tadi Baekhyun benar-benar hampir kembali masuk ke kampus kalau saja gadis itu tidak keluar lima menit lagi. Baekhyun khawatir terjadi sesuatu padanya mengingat ia hanya memakan roti kecil pemberian Baekhyun. Dan saat ia pergi dari taman kampus, Jieun sudah terlihat lelah. Karena itu Baekhyun berpikir jangan-jangan Jieun pingsan di dalam.

“Menunggumu” jawab Baekhyun pada akhirnya.

“Hah?”

“Tadi aku panik karena setelah kau memberikan bekalmu, aku sama sekali tak melihat batang hidungmu. Lalu, ku putuskan untuk bertanya pada sahabatmu yang bernama Chanyeol. Katanya ia melihatmu sedang di perpustakaan”

Jieun hanya diam, tidak ada respon apapun darinya. Tanpa pikir panjang, Baekhyun segera menarik tangannya menjauh dari kampus.

Mereka berdua pulang dengan berjalan kaki. Di jalan, Baekhyun bisa mendengar suara kaleng minuman yang ditendang. Langit yang mendung menambah gelap jalan yang mereka lewati. Baekhyun bahkan tidak bisa melihat apapun karena gelap. Mereka menghentikan langkahnya saat melihat seorang pria yang mabuk berjalan sempoyongan.

Dengan perlahan Baekhyun langsung memposisikan Jieun di belakangnya. Baekhyun mendorongnya mundur merapat ke tembok. Sebaiknya mereka tidak menarik perhatian pria ini jika tidak ingin terlibat masalah.

“Kalian~” pria itu berhenti di depan Baekhyun dan berjalan mendekati mereka berdua. Baekhyun mundur perlahan sambil mengulurkan tangannya ke belakang memastikan Jieun tidak terlalu jauh darinya.

“Kenapa kalian malam-malam ada di tempat sepi seperti ini, hah?”

“Kami baru saja pulang dari kegiatan klub” jawab Baekhyun berusaha setenang mungkin.
“Hmm, kenapa tidak langsung pulang? Kenapa mengobrol dulu di tempat gelap seperti ini?” pria itu mundur lagi. Tetapi Baekhyun tidak bisa melangkah lagi karena bisa dirasakan di belakang Baekhyun Jieun sudah mematung ketakutan.

“Bukan urusan anda” jawab Baekhyun lagi.

“Yahh, baiklah aku mengerti. Anak jaman sekarang memang berbeda” pria itu berbalik lalu meninggalkan mereka. Dirasakan Jieun yang masih mencengkram kemeja Baekhyun walaupun suara langkah pria itu sudah tidak lagi terdengar.

“Jieun-ah, dia sudah pergi” panggil Baekhyun sambil menoleh ke arahnya.

Gadis itu menghembuskan nafas lega lalu melepaskan cengkramannya dari kemeja Baekhyun, “Gomawo” ucap Jieun.

“Eh?”

“Untung saja kau menungguku. Kalau tidak, pasti aku sendirian. Dan pria itu…aku tidak berani membayangkannya” kata Jieun. Sepertinya dia sudah tidak ketakutan lagi.

“Kalau terjadi seperti itu lagi, kau langsung lari saja” ucap Baekhyun menasihatinya, “Ayo, aku antar kau sampai rumah”

“Kau akan mengantarku?”

“Aku yakin masih banyak pria seperti tadi di perjalanan ke rumahmu nanti”
Jieun bergidik sambil menggelengkan kepala, “Kalau begitu ayo cepat!” seru Jieun sembari menarik tangan Baekhyun.

Sepanjang jalan mereka hanya mengobrol.. membicarakan berbagai macam hal. Sesekali obrolan mereka diselingi dengan tawa. Dari perbincangan mereka, Baekhyun baru tahu kalau Jieun ternyata orang yang sangat manis. Berbeda sekali jika sedang berada di kampus.

“Eh? Hujan ya?” ucap Baekhyun saat merasakan setetes air jatuh mengenai wajahnya.

Baekhyun buru-buru membuka jaketnya dan memayungi mereka berdua. Mereka mempercepat langkahnya seiring dengan bertambah derasnya tetesan hujan yang jatuh ke bumi. Melihat sebuah halte, mereka memutuskan untuk berteduh sebentar menunggu sampai hujan reda.

Udara dingin ini benar-benar menusuk tulang. Bahkan berkali-kali Jieun menggosokkan kedua tangannya. Wajah gadis itu memucat, tubuhnya pun menggigil. Entah apa yang ada di pikiran Baekhyun saat ini. Melihatnya yang kedinginan seperti itu membuatnya langsung merengkuh Jieun dalam pelukan Baekhyun.

“Baekhyun-ah” ucap Jieun dengan suara gemetar.

“Stt…ijinkan aku memelukmu beberapa saat. Kau terlihat begitu kedinginan” Jieun tak merespon, membuat Baekhyun semakin memeluknya erat.


.:To Be Continue:.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar