.

Jumat, 20 Juni 2014

[FANFICTION] MY OLD STORY


My Old Story

Author : Pabo Namja
Cast : IU, Zhang YiXing, Park ChanYeol
Type : Oneshot, Ficlet
Genre : Romance
Inspired from IU’s song ‘My Old Story’

**

Its not about why i keep always this memory,
But because i know how precious the memory,
Time can’t turn back, and i can’t live with past memory
So this is just another story
.
.
My Old Story
.
Hujan yang turun mendadak, membuat gadis berambut coklat sebahu ini terpaksa harus menghentikan langkahnya berteduh disalah satu caffe dikawasan Hongdae. Ini diluar prediksi. Seharusnya kurang dari dua puluh menit lagi dia harus sudah berada disalah satu restoran yang berada beberapa block dari sini. Tapi dia tidak bisa memaksa diri untuk terus melangkah kecuali dia rela dandanan manisnya akan terhapus air hujan. Dan itu sangat tidak boleh terjadi.

“Satu moccahino tanpa whiping cream,” jawab perempuan itu saat seorang pelayan mendekatinya.

Perempuan itu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru caffe yang penuh dengan mereka yang rata – rata juga tengah berteduh. Pesanannya tiba. Untuk menghilangkan dingin, perempuan itu menyesap pelan moccahino yang masih mengepul itu dengan mata terpejam. Dan ketika itu kedua telinganya mendengar satu dentangan melody yang sangat ia kenali.

Satu suara senar gitar yang begitu lembut dengan lagu yang sangat ia kenal mulai mengalir lembut mengalahkan suasana dingin saat itu. Perlahan dia menaruh cup mocchanio yang masih terisi penuh itu kemudian melangkah menuju suara itu berasal.

Berada didepan caffe, sebuah panggung musik kecil dengan beberapa anak muda yang tengah memainkan musik beraroma hangat ini. Gitar, biola, drum dan satu orang melantunkan suaranya.

Perempuan itu tanpa sadar sudah berdiri didepan panggung kecil mendengarkan setiap bait lagu yang mengalir dengan segenap hatinya. Bukan karena dia mengenal para pemain musik itu, bukan karena dia penggemar mereka, bukan. Tapi karena lagu yang menyimpan kenangan besar untuknya.

‘Do you remember that lonely alleyway?
I still remember now’
.
.
“Apa susahnya kau katakan ‘Lee Jieun Aku mencintaimu….’,” ucap seorang murid perempuan memecah keheningan antara dia dengan lelaki yang tengah berjalan didepannya.

Lelaki yang juga menggunakan seragam yang sama dengan Jieun, membalikan badannya kemudian menatap Jieun takjub.

“Aku sudah tahu semuanya, anak – anak juga sudah tahu semuanya, kenapa kau tidak bilang sendiri padaku dan mengakhiri semua ini,” lanjut Jieun lagi dengan wajah kesal. Musim panas yang saat itu mulai menyapa Seoul membuat keringat mulai bercucuran dari dahinya.

“Kau mencintaku bukan?” tanya Jieun lagi. Seakan dia tidak memberi waktu pada lelaki didepannya untuk berkata sedikitpun. Karena Jieun terlalu takut jika lelaki itu berbicara hanya akan melukai harapannya.

“Kau selalu memperhatikanku, tersenyum manis padaku, selalu menanyakan keadaanku pada teman sekelas, mengantarku pulang seperti sekarang, menemaniku saat kesepian, bisakah kau pertegas semua ini, ”

Lelaki itu kembali tersenyum yang meninggalkan sepasang lesung pipi pada wajahnya. Dan itu sangat manis. Lelaki itu berjalan menuju Jieun kemudian berhenti saat jarak mereka sangatlah dekat.

“Kau tahu,” ucap lelaki itu. “Satu tahun terkahir ini merupakan waktu terlelah bagiku. Aku harus melalui hari tanpa bisa mengatakan dengan bibir ini bahwa aku mencintaimu, karena hati ini sejak setahun lalu sudah merapalkan kalimat itu, sayang bibir ini terlalu penakut,” lanjut lelaki itu yang berhasil membungkam Jieun.

“I Love You….”

Dan hari itu Jieun mendapatkan fakta yang dia harapkan. Bahwa seorang Yixing ternyata mencintainya.

The anxious days when I couldn’t tell you I loved you
Did you know about that?
.
.
Jieun membuka matanya saat Yixing mengakhiri pertunjukannya. Ah, ini hanya sebuah pertunjukan dimana Yixing bernyanyi sambil memainkan gitarnya dengan Jieun dan langit malam sebagai penontonnya.

“Bagus,” suara Jieun sambil bertepuk tangan.

“Nanti, saat kau mendengar lagu ini pastikan aku yang ada dibenakmu,” jawab Yixing sambil kembali duduk disamping jieun setelah merapihkan gitarnya.

“Ahahaha, bertambah lagi hal yang mengingatkanku padamu,” ucap Jieun.

“Memang apa saja,” tanya Yixing penasaran.

“Banyak, semua yang kau lakukan, lagu ini dan…” Jieun menghentikan kalimatnya, dia menggeser duduknya mendekati Yixing kemudian secara cepat dia menempelkan bibirnya pada pipi putih Yixing. Ya, malam itu mereka berbagi satu ciuman manis. “Dan ciuman ini,” lanjut Jieun yang dibalas senyuman sangat manis dari Yixing.

If you hear this song, please come to me
My dear, I’m waiting
.
.
Ternyata benar menurut Jieun. Terlalu banyak yang harus dia ingat tenang Yixing.
Tentang seperti apa Yixing mengejarnya, cara mereka menjadi sepasang kekasih, lagu yang Yixng nyanyikan untuknya dan satu ciuman dibawah langit malam waktu itu. Dan kini kembali bertambah yang harus Jieun ingat, ketika dia harus menerima kenyataan Yixing harus pindah bersama orang tuanya. Tanpa meninggalkan pesan, Yixing pergi menghilang dari kehidupannya.

“Apa gunanya kau mengungkapkan cinta padaku bila berakhir seperti ini,”

You childish person
You try to take all of me, you heartless person
.
.
Jieun merasa tertarik kembali ke masa lalu saat mendengar lagu ini. Lagu yang Yixing nyayikan untuknya dimasa lalu. Jieun mengerjapkan matanya beberapa kali. Bukan karena dia menangis merindukan Yixing. Bukan. Tapi karena betapa mengharukannya hidup Jieun, ketika dia bahkan masih mengingat semua hal tentang lelaki itu.

“Apa boleh buat, dia bilang lagu ini untukku,” ucap Jieun sambil tertawa.

“Lagu siapa untuk siapa?” satu suara berbisik lembut ditelinga kiri Jieun membuatnya terlonjak kaget. Seorang lelaki bertubuh jangkung dengan senyum lebar yang selalu menghiasi wajahnya. Kekasihnya.

“Kau menganggetkanku,” bisik Jieun.

“Perasaan aku belum pernah menyanyikan lagu ini untukmu,” ucap Chanyeol sambil berpura – pura berfikir.

“Sudahlah, ini hanya bagian dari masa lalu yang tidak perlu kau gali,” jawab Jieun sambil merangkul tangan Chanyeol.

Chanyeol mengalihkan tangannya dengan merangkul Jieun manja. “Tentu, karena aku hidup dimasa kini bukan dimasa lalu,” jawabnya. “Ayo, aku datang kesini untuk menjemputmu tuan putri, kau ingin segera bertemu dengan ayah dan ibu mertua bukan? ahahah” lanjut Chanyeol lagi.

“Tentu pangeran,” jawab Jieun sambil bergelayut manja dilengan panjang Chanyeol melangkah meninggalkan tempat itu.

Kenangan boleh saja masih Jieun simpan dalam hatinya. Mengingat semua bagian dari masa lalunya. Tapi masih banyak hal dari masa kini yang harus dia ingat, terutama lelaki yang selalu memberinya senyuman manis yang akan segera menjadi pendamping hidupnya.

The beautiful nights of the past when we were childish
I am still in love



END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar